Series Catatan
Untuk Si Pejuang Kebaikan
Tadammm!!!!!
Ini
doi-ku khalayak ramai~
![]() |
| Siapa kah doi? |
Lucu
ya? Lucu banget memang, sampe ku pernah bilang “Nggak bisa jadi anak kecil
lagi? Lucuan waktu kecil!”
Begitulah~
Lalu
doiku siapa tuh siapaa? Kapan ketemunya di mana? Kok bisa?
Tahan-tahan
tingkat ke kepo-annya tahan! Kalo enggak mau tau juga gapapa kok, tidak ada
unsur kepentingan publik kok di tulisan ini.
Caca
dan doinya (ini bisa diartikan juga sebagai aku dan doiku yay!) ketemu
gara-gara pernah satu acara bareng di Bandung, bulan Desember 2017 lalu.
Awalnya, aku nggak lolos pas seleksi acara ini loh. Beberapa hari sebelum acaranya
mulai,‘ku dihubungi panitia karena jadi cadangan dan ada peserta yang
mengundurkan diri gitu. Karena ‘ku orang Bandung Raya sih ya jadi dihubungi
((mungkin)).
Doiku
bukan orang Bandung, doi orang ibukota provinsi Sumatera Utara. Karena acaranya itu melibatkan
pemuda-pemudi se-Indonesia, maka aku dan pemuda-pemudi lainnya bertemu. Ya,
termasuk dengan doi. Karena yang dibahas dalam konteks tulisan ini ialah aku
dan doiku, maka mengenai acaranya apa dan bagaimana tidak ku bahas yaaa. (‘tuk
yang mau tau ini acara apaan, bisa cek dan follow @angkatan perubahan dan
@pemudamendesa *usaha bgt promosi)
Kami, si Kurir bika ambon
Ternyataaa
betul apabila manusia itu saling terhubung satu dengan lainnya. Ternyata, sobat
ghibah di sekreku yang inisialnya
Doci (padahal emang nama panggilannya~) merupakan temennya Enggar (Nggar,
maafin disebut nih). Enggar itu sahabatnya doiku. Ternyata kalo dipikir-pikir,
wajar sih kami masih satu lingkaran pers mahasiswa jadi kenal. (Nah loh, ke
sebutkan, akhirnya!)
Kemudian,
Nggar menitipkan oleh-oleh untuk Doci, yang dititipkan via doiku yang kemudian
dititipkan juga ke aku. (Pusing ngga, sih?). Oke, intinya Nggar nitip oleh-oleh
buat Doci melalui perantara doiku dan aku. Sekian~
![]() |
| Bika ambon yang ku pap buat Doci, ngabarin dah sampai neeeh leh-olehnyaa |
Jadi,
perkenalan dan chat pertama kami
adalah sebagai kurir oleh-oleh: bika ambon. Tapi, setelah transaksi kurir bika
ambon itu terjadi, nggak ada yang spesial tuh. Kami (aku dan doiku) pun enggak
deket pas acara itu. Acara itu kan pesertanya banyak, 50-an orang gitu. Aku sih
seru aja punya banyak temen, ngobrol sana-sini sampe punya cerita-cerita baru.
*Btw, hmmm ku jadi rindu sobat-sobatku nihhh
Yah,
jadi sebetulnya biasa-biasa aja kan yah. Sampai kemudian…
Doiku adalah sobatnya sobatku. Eh
gimana?
Ternyata,
hukum follow memfollow instagram ialah
sebuah keharusan di dunia digitalisasi media ini *apasih Ca~ Eh bener tau!
Alhasil, di acara itu follow-memfollow pun terjadi. Lumayan kan nambahin
followers sekitar 50-an peserta xixi.
Lalu,
terkejutlah ternyata pas ku buka profil Instagram
doiku, tercantumlah followed by Ade.
Kaget kan, hmm lalu ku tanya lah, ternyata memang benar, doiku ialah sobatnya
sobatku. Gimana Ca? Hmm.
Jadi
gini-gini. Oke, ‘ku runut ya. Si Caca (alias aku) kan ikut pers mahasiswa di
kampus. Lalu, kampus-kampus di Bandung itu punya forum komunikasinya gitu, dan
dari sana ku kenal dan punya sobat dekat bernama Ade. Nah, Ade itu kuliah di
UIN Bandung. Kemudian ternyata, Ade dan doiku pernah terlibat di satu acara
khusus pers mahasiswa yang dibawah naungan kemetrian agama *cmiw please*
Intinya: mereka kenal lah ya, lalu mereka satu grup whatsapp abis kegiatan itu.
Fyi, doiku juga anak UIN, tapi di Sumatera Utara.
Awalnya
kami mau ketemu Ade. Eh, ternyata Ade lagi enggak di Bandung, lagi mudik. Gitu
cuy! Oke, kembali ku ceritakan aku dan doiku waktu acara itu memang biasa-biasa
aja.
Nggak
pernah chat juga kok (setelah jadi kurir
bika ambon). Terlibat diskusi ataupun percakapan pun engga sih. Eh, kecuali pas
malam di daerah Dago Pojok, setelah sesi acara itu selesai. Ku cukup lama
ngobrol dan konsultasi organisasi sama doiku, yang juga suhu-ku di berbagai
bidang, termasuk konsultasi di organisasi hehe. Kayaknya bentar, tetapi
ternyata sampai malam, walhasil besoknya bumbu-bumbu gosip terpercik.
Tapi,
itu juga biasa-biasa aja sih. Ya, temen kan, diskusi terus kenapa? Lalu,
tibalah akhir acara itu, juga akhir pertemuan kami. Hari terakhir acara itu, ku
ajak lah doi bersama teman-teman kamarnya ke Ciwalk. Ceritanya ala-ala tourguide gitu kan ya Ca~
Di
situ juga biasa. Terus aku spesialnya di mana dong??!!
Baiklah~
Sejak kapan nih?
APANYA?!!
Doiku,
sejak kapan ya spesial bagiku? Hmmm sejak awal kami bertemu kah? Engga tau lah.
Mungkin setelah pesan-pesan yang ia kirim saat kami berpisah waktu itu? Sulit
ditelusuri memang Ca!
Emang
setelah acara itu selesai, malah deket sih. Ya, teman baik yang saling chat lah ya. Mungkin jadi awal yang
nggak biasa-biasa aja waktu dia kirim ini:
![]() |
| Beneran candid loh ini! |
Siapapun paparazzi nya, makasih loh dah fotoin!!
“Semoga
bisa duduk satu meja lagi,” katanya
Ingin
sekali ku balas “Nggak sopan ih duduk di meja!” tapi karena baru kenal, ku
urungkan niatku itu. Sebab ku tahu, maksudnya ialah duduk bersama atau berdiskusi lagi. Hehe.
Tapi,
tapi tapi. Semenjak awal memang, ku tidak bermaksud menumbuhkan apa-apa. Sebab
dari awal ku selalu berpikir: aku mah apa atuh! Doi kan multitalent, kreatif dan dengan segala kepopuleran yang melekat
padanya, ya masa sama aku sih. Hmmm.
Bayangin
aja bayangin. Perempuan dengan deskripsi sebagai berikut:
Kalo
ke kampus, baju-celana-kerudungnya warnanya kadang enggak nyambung. Hobi pakai kaos
kaki warna-warni yang lucu (meskipun nggak match
dengan sepatu/sandalnya). Lalu tidak terbiasa pake rok. Waktu ketemu di bulan
Desember 2017 itu, aku masih pake celana jins ketat. (Sekarang udah nggak sih
hehe).
Begitulah~
entah mengapa aku ini begini.
Oh
iya, sejak awal (ku tegaskan kembali) memang nggak hendak menumbuhkan apa-apa
sebab dari awal dibilangin “Ca, dia mah baik sama semua orang,” ujar seseorang.
Lalu, apakah ‘ku itu spesial
baginya?
Itu
pertanyaan yang selalu ku tanyakan pada diri sendiri. Sebagaimana diketahui khalayak
ramai, doiku orang yang baik banget. Seriusan. Kalo ada istilah “Kamu terlalu
baik buat aku,” itu bukan klise. Ini beneran kok! Sampai saat ini, selalu
ngerasa begitu. Doiku terlalu baik bangett buatku.
Setiap
orang, menurutku berhak merasa spesial di mata orang lain. Teman-teman dekat
doiku, tentu merasa spesial dengan caranya masing-masing. Orang-orang yang
pernah dekat, kenal dengan doiku pun begitu. Kalo begitu, berarti berhak dong
yaa si Caca ini merasa spesial?
Menurutku,
malah orang-orang yang dekat dengan doiku spesial banget. Hadeuh. Kadang iri
juga sih sama temen-temen yang tiap hari ketemu sama doi. Gusti, ini si aku mah dikirimin doi pap lagi di mana terus ngapain
aja udah seneng, buka whatsapp sambil
senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba dikirimin voice
note pas mau tidur. Dikabarin udah sampe rumah, udah makan atau bilang
minta ditemenin begadang aja udah seneng banget. Ya ampun. Caca tumben begini.
Hmmm tumben~
Lalu,
hal yang tidak biasa adalah, bersama doiku, kebiasaanku mulai berubah. Ku mulai
bertanya “Lagi apa?” atau “udah makan belum?” Bukan semata-mata privacy aja ternyata. Hanya saja, ingin
sekali rasanya mengetahui hal-hal tersebut. Kok bisa gini yah. Padahal kan
sebelumnya aku tak begini. Hmm romantika memang mengubah segalanya *halah!
Doi
emang baik banget sih emang. Doi tetiba kirim foto, katanya gelang kami dah sampe Aceh.
Super duper sirik soalnya ku sangat ingin ke Aceh!!
![]() |
| "Gelangnya dah sampe Aceh nih Teh," ujar doiku. |
Kapan-kapan
ku ceritakan deh tentang gelang kami, ataupun buku-buku yang ia beri. (Kapan,
tapi Ca?!) Hehe. Skip.
Oke,
meskipun nih, dari awal sering banget curhat ke mentemen dekatku tentang
bagaimana aku seharusnya bersikap. Awalnya ku ragu untuk membalas pesan-pesan
doiku. Tapi ku rasa, doiku kok nge klik ya. Lalu, ku merasa akan ada sesuatu
yang baik jadi ku jalani saja. Sampai lama-kelamaan ya udah engga cerita lagi
sebab ragu itu semakin hari kian menipis. Hehe
lebay.
Terus-terus???
Ya,
gimana ya. Doi sama aku kan jauh tuh, 2.112 km jaraknya. Kalo dipikir-pikir
ngapain nggak sih kami tuh? Tapi sekali lagi, aku ngerasa ya nge klik aja jadi
ku jalani. Tapi nih, ku sudah bilang sih ke diri sendiri (weisss~ gimana nih
caranya Ca?!) kalo aku nggak bakal yakin sama doiku ini sampai doi beneran
dateng ke rumah a.k.a main a.k.a kenalan sama Bapak dan mamahku.
Aku
sih nggak pernah nanya-nanya “Kapan ketemu?” “Kapan ke rumah?” Nggak pernah.
Ngapain juga hmm~ Karena secara pribadi aku belum siap untuk mengenalkan
siapapun (secara lebih) terutama di usia menginjak perkuliahan semester akhir,
hal yang dibahas kalo ngga kapan lulus ya kapan nikah.
Doiku
pernah bilang, doi mau ke Cimahi (letak rumahku) mau jumpa mamah dan bapakku. Mau
kenalan doang, kok! Aku sih nge-aamiin-in aja sih. Eh, ternyata doi seriusan
dong! Seriusan nengokin ke Bandung dong, dan beneran dateng ke rumah, 29 Juli
2018 lalu.
Ya,
ku tau sih gimana ribet dan degdegannya doi waktu mau ke rumah.
“Pake
baju apa ya? Kemeja aja?” tanya doiku
“Rapih
banget, kayak mau ngelamar kerja,” ujarku.
“Hah?
Ngelamar?” lalu kami berdua salah tingkah.
“Ih…bukan
gitu maksudnyaaaa. Anggap aja percakapan tersebut tidak pernah terjadi.
Lupain!” Aku lalu bete bangetttt.
Karena
ya begitulah, aku bukan tipikal perempuan yang mengamini nikah muda dan lain
sebagainya. Jadi, apapun percakapan yang membahas hal-hal tersebut agak ganjil
aja dan menyebalkan hoho.
![]() |
| Futu-futu di ruang tamu rumah ku, doi ku dah sampai Leuwigajah |
Itu
story instagramnya doiku. Serta, pesan dari bapakku. Lelaki keluargaku, yang
juga nganter doiku waktu ke travel pas
doiku mau pulang ke ibukota provinsi Sumatera Utara. Kira-kira dua lelaki-ku
itu ngobrolin apa ya?
Doiku
kirim itu juga waktu ku tanya,
“Kemarin
itu bukan mimpi kan?”
Akhirnya,
ku merasa juga merasa spesial dong! Ya, selain martabak yang spesial, atau nasi
goreng Mas Budi (fyi ini nasi goreng terenak di sekitar komplek-ku, di
Leuwigajah, Cimahi) tentunya.
**
Nb.
Untuk
Ade, makasih udah nginep sehari semalem dan denger semua cerita, celotehan
sampai isak tangis tiada henti saat doiku berhenti mengirimiku pesan ‘tuk
seterusnya. Makasih juga udah menemani curhatan kami semenjak awal kami dekat.
Makasih udah jagain Caca!
Untuk
Enggar, makasih udah kasih kasih bolu buat Doci dan udah kabarin teh Caca
tentang Abang hehe. Sehat-sehat, semangat terus Nggar!
Untuk
Doci, hmmm trims pelukannya waktu ku nangis di sekre hoho
Untuk
Ibu dan keluarga doiku, semoga sehat selalu dan senantiasa berbahagia.
Untuk
teman-teman doiku yang padahal belum aku kenal, lalu mengirimiku pesan dan jadi
kenal hehe. Untuk kebaikannya, hatur nuhun.
Untuk
mamah, bapak dan adikku yang selalu mengingatkan bahwa doaku, satu-satunya yang
dapat mendekatkan jarak antara aku dan doiku.
Untuk
semua orang baik yang sudah menguatkan. Serta, untuk khalayak ramai yang
meluangkan waktunya untuk membaca curhatan ini, semoga senantiasa berbahagia.
Hehehe
kok kalo nyebutin terima kasih gini sedih yah. Gapapa, berlatih buat ngucapin
terima kasih di lembar skripsi dong yaaa.
Tenang-tenang,
doiku, kamu nanti ku tulis kok di lembar skripsiku! Al-Fatihah untuk doiku,
yang namanya sejak akhir tahun lalu senantiasa ku sebut dalam doaku, pun juga
hari-hari berikutnya.
A,
tumben kan teteh ngga nyebelin kan?
Hmm
baiklah~ bonus fotoku deh biar ngga melow. Tapi malah eneg ya khalayak ramai~
![]() |
| tangkapan gambar oleh doiku |
Ku
dapat harum manis dari kurir arumanis yang ku sayang, yay!
















