Menutup tahun 2018 dengan tulisan
tentang kau: tokoh yang selalu hidup dalam dongeng dan cerita di negeri permen
kapas. Tulisan ini merupakan catatan perjalanan lintas pulau pada
Oktober-November 2018. Ditulis kembali menjadi narasi panjang setelah
sebelumnya hanya ditulis di memo kecil ponsel, ataupun coretan di buku catatan.
Terhimpun dalam beberapa judul, yang bisa dibaca berurutan/acak, ataupun tidak
dibaca sama sekali.
**
Tadinya, aku akan mengucap
selamat pagi. Seperti pagi waktu bagian kamar tidurku, yang biasanya baru ku
rapihkan pukul 8 pagi. Kau satu—dari sekian manusia dalam duniaku yang paling
cerewet membangunkanku subuh, dan mencegahku tak tidur lagi lepas subuh.
Bedanya, kau lebih berisik menyuruhku mandi pagi. Kadang kala aku merasa risih
dan sengaja tak membalas pesanmu hingga aku selesai mandi. Beberapa waktu
setelah kau tak lagi mengirimiku pesan, seringkali aku merasa menjadi makhluk
yang aneh. Tiba-tiba membuka gawai, lalu berharap ada pesan baru yang kau
kirimkan. Tentu, tak pernah ada. Lagi pula, aku lebih berjingkat ngeri jika kau
dapat benar-benar melakukannya.
Ku kira, cepat akan lambat kita
memang akan berhenti saling mengabari, saling cemas atau saling mengingatkan.
Awalnya, ku kira mungkin kau akan tiba-tiba menghilang seperti yang telah lalu,
atau mungkin aku yang merasa diksi juga diskusi tak lagi mampu membuat waktu
yang dijalani terasa baik-baik saja. Jika perpisahan kita dapat diperkirakan
opsi dalam survei dan Tuhan menjadi respondennya, tentu Tuhan menjawabnya
dengan pilihan “opsi lainnya…..” Opsi yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya.
Pilihan “opsi lainnya…” selalu beragam, bukan?
Oktober tahun ini, aku akhirnya
mengunjungi kotamu. Dulu, kau yang bilang, jarak kotamu dan tempat tinggalku,
tak jauh, hanya dua jam, asalkan naik pesawat. Menjadi perempuan cengeng yang
mengeluh tentang jarak, kira-kira itu definisi ku atas diriku sendiri. Kau
bilang, kalau aku rindu, banyak-banyak berdoa. Katamu, doa mampu mendekatkan
jarak. Beberapa hari setelah kau datang ke kotaku, aku malah berkata padamu,
aku sedih. Perjumpaan rupanya membuatku justru kehilangan.
“Senyum-senyum jangan sedih,”
pesanmu awal Agustus lalu.
Kau bilang, aku tak boleh lagi
sedih-sedih, sebab sudah kau tengok. Ingin rasanya aku juga membalasnya.
“Aku sudah sampai di kotamu. Apa
kau senang?” Meskipun aku tau, segala macam emosi tak ada lagi di sana.



