Aku berdiri di tepi jurang. Di samping jurang ini, terhampar padang hijau tak berbatas. Angin yang berhembus perlahan, menghempas anak rambutku yang sengaja ku biarkan tergerai. Biasanya, kau sengaja merapikan anak rambutku itu, menyisipkannya pada dua telingaku, lalu kau menyisir rambutku dan mengepangnya. Kegiatan favorit, katamu.
Kau tak akan banyak berbicara, cukup mengikatnya dengan kencang, lalu menaruh dagumu pada pucuk kepalaku, menandai kau telah selesai mengepang rambutku. Biasanya, aku akan berbalik. Lalu, menatap lekat kedua matamu yang meneduhkan. Setelahnya, ku ingat betul, kau akan menaruh kecup lembut pada dahiku.
Kemudian, kau akan merapatkan kedua degup jantung kita. Hal yang menandai dua makhluk itu hidup, berdegup, tak pernah bosan bersua. Kau, lalu menaruh kedua lenganmu, pada punggungku. Aku, perlahan-lahan akan terpejam. Degup jantungku yang detaknya terlampau cepat jika ia didekatmu, perlahan-lahan kembali pada ritme yang biasanya. Sebab kau, alasan aku baik-baik saja. Kau, alasan detaknya menemukan rumah untuk merasa tenang.
Sesekali, kau berbisik. Kau bilang, kita akan tetap baik-baik saja dan tak ‘kan pernah kemana-mana.
Bunga dandelion itu berhambur kegirangan. Angin yang berhembus, membuatnya terbang semakin jauh, berhambur tanpa arah. Kau tak berkedip tiap aku meniup dandelion. Kau bilang, sehabis ku tiup dandelion itu, aku selalu tersenyum. Satu dari sekian hal yang kau rindu, mungkin.
![]() |
| Kau juga menyukai bunga-bunga, bukan? |
Kau memelukku erat. Kudengar degupan jantung itu. Tapi, kali ini degup jantung yang ku dengar, ternyata hanya milikku. Kau tetap memelukku, tapi tak mengepang lagi rambutku. Kau membiarkan rambut panjangku terurai, mengusapnya dengan lembut. Lalu membiarkan angin menghembuskan wangi rambutku.
“Stroberi,” ucapmu sambil tersenyum.
“Baru ku cuci, kau suka?” tanyaku
Kau mengangguk. Lalu, kau memelukku lagi. Lebih erat dari sebelumnya. Aroma rambutku yang terurai, dan aroma tubuhku yang kau bilang sama seperti harum adik kecil selepas mandi pukul 4 sore.
Kau menaruh dagumu lagi pada pucuk kepalaku. Lalu, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Kenapa kita bisa bersama kembali? Aku menatap lekat dua bola matamu. Ku kira kau, masih orang yang sama, yang selalu ku tunggu tiap sore. Kau, masih orang yang sama yang tiap sore ku buatkan teh hangat, dan saban subuh ku temui tiap ku membuka mata. Hanya saja, kini kau tak lagi seseorang yang bisa ku peluk tiap saat.
Kau, hanya hidup dalam kepalaku. Pada ruang penyimpan memoriku, yang entah kapan akan tiba-tiba ku lupa.
Dandelion itu berterbangan lagi. Aku masih di tepian jurang. Kau, melepaskan pelukkan eratmu. Kau tak berkata-kata, tapi menatapku dan tersenyum. Kau, mengecup pangkal hidungku. Aku terpejam. Kau berbisik, saat aku membuka mataku kelak, aku tak boleh bersedih. Aku, tak boleh membiarkan hujan turun di pelupuk mataku lagi. Aku mengangguk, sambil tetap terpejam.
Kau benar, kita tak pernah punya cukup waktu. Untuk mengasihi atau saling membutuhkan. Kau juga bilang, jika kau tak pernah benar-benar berniat menemuiku. Maka, kita tak perlu repot-repot saling mengingat, atau saling melupakan. Semuanya, sudah pada masanya masing-masing. Kita, akan bertemu pada masa berikutnya, barangkali jika memang seharusnya terjadi.
Tepian jurang itu lenyap, padang rumput tanpa batas serta dandelion itu turut pula sirna. Aku terbangun. Nyatanya, aku tak pernah memeluk siapa-siapa selain diri sendiri. Aku, tak menemui kau lagi. Aku, menghapus sisa-sisa air yang entah kapan tiba-tiba hadir di kedua pelupuk mataku. Butuh beberapa menit hingga akhirnya aku sadar, kita tak pernah sama lagi. Aku beranjak dari tempat tidur, dan menatap pantulan bayanganku pada cermin. Rambutku masih tergerai, lalu ku putuskan untuk merapikannya sendiri. Ku eratkan rambutku, menjadi kepang kuda. Seperti selalu kau bilang, itu model rambutku yang menjadi favoritmu, kasih.
**
From Cimahi for an infinite distance, ‘till we meet again, dear.




