Langit malam itu tampak pekat.
Tak ada bintang, atau terang bulan. Tak ada yang nampak berkilau lagi, kecuali
binar kedua matanya yang menatapku.
“Jangan pergi,” ucapku terbata.
Ia hanya tersenyum. Menggenggam
kedua lenganku yang gemetaran.
“Bolehkah?” aku bertanya. Bukan,
itu bukan pertanyaan. Itu permohonan. Aku gemetaran. Tak bisa lagi menangis,
karena ku tau, itu tak lagi berarti apa-apa.
“Ku titipkan bintang-bintang di
langit malam ini. Jika kau tiba-tiba menginginkanku untuk hadir, tataplah
bintang itu. Aku, selalu ada,” ia akhirnya bertutur padaku yang mulai
mengerutkan kening dan hampir merengek seperti bocah kecil.
“Jangan menangis. Kau ingat pesan
yang ku kirim terakhir kali? Kau, tak boleh sedih-sedih,” tambahnya. Kali ini,
ia mulai perlahan melepaskan genggaman tanganku yang makin gemetaran.
Ia menitipkan bintang-bintang.
| Gerhana bulan 2019/Nurul Yunita |
**
Mentari menatap lelaki yang
berdiri satu meter didepannya dengan penuh pertanyaan. Lelaki macam apa yang
mengirimkan kartu pos sebulan lalu, kemudian mengajaknya bertemu? Anehnya,
mengapa Mentari harus membalas kartu pos itu, padahal mereka tinggal di kota
yang sama? Hari ini, Mentari bertemu dan menatap lelaki itu lekat. Ia ragu
untuk menyapa, namun ternyata tanpa disapa pun, lelaki itu terlampau riang dan
menyenangkan.
Pertemuan pertama, Mentari lupa
akan bintang-bintang yang biasa ia tatap tiap malam. Pertemuan kedua, Mentari
bergeming. Mentari dan lelaki yang baru ia kenal, menatap langit malam.
“Kau suka menatap
bintang-bintang?” tanya Mentari
“Tidak juga. Mereka indah, tapi
ada di masa lalu,” balas lelaki itu.
“Maksudmu?” tanya Mentari lagi.
“Mereka tinggal di jarak puluhan
tahun cahaya. Saat cahayanya mengenai kau yang hidup di masa kini, tubuh
bintang-bintang itu pun belum tentu masih ada. Mereka, terlampau jauh. Mereka,
ada di masa lalu,” kisah lelaki itu.
“Namaku Mentari. Kata Ibu, itu
berasal dari kata matahari,” ucap Mentari.
“Kau juga bintang, tapi jaraknya
tak jauh dariku. Kau, akan selalu baru dan hadir tiap hari bagi Bumi. Bagiku,”
ujar lelaki itu.
Mentari yang hadir untuk Bumi.
Lelaki itu bernama Bumi. Mentari menyunggingkan senyumnya. Ia harap, Bumi tak
dapat melihat pipinya yang mulai berubah warna karena tersipu.
**
Sore tadi, aku menatap mentari
terbenam di ufuk barat. Seseorang yang sedang mengemudi di sebelahku,
menggenggam erat jemari tanganku. Selalu hangat, untuk jemariku yang terlampau
dingin.
“Ia lebih bagus terlihat dari
jendela kamarku. Kapan-kapan, mungkin kita bisa temui bersama,” ujarnya.
Aku tersipu. Aku suka senyumnya
ketika ia bercerita. Aku suka, tawa riang yang berderai dan membuat matanya
menghilang.
“Kenapa?” tanyanya.
“Enggak,” jawabku ketus.
Ia tersenyum lagi dan menggenggam
tanganku jauh lebih erat dari sebelumnya. Jantungku berdegup. Sekali saja, jika
berharap tiap detik terlalu serakah, cukup sekali saja dalam rentang waktu yang
entah sampai kapan ini, aku berharap tetap menatap senyumnya.
**
Mentari bertemu Bumi lagi. Kali
ini, kepala Mentari penuh setumpuk pertanyaan.
“Aku tidak mengerti definisi
menerima yang kau maksud. Bukankah hidup mestinya terus bertumbuh dan mencari?”
tanyanya
“Kelak, ada satu titik ketika
pada akhirnya—entah dengan alasan apa, kau akan berhenti mencari, cukup
menerima. Menerima bahwa kau pernah terluka, menerima jika luka itu akan
pelan-pelan berlalu,” ucap Bumi.
Bumi menatap lekat kedua mata
Mentari. Meneduhkan. Jangan menangis Mentari, jangan. Mentari berbisik pada
dirinya sendiri. Pada satu titik diakhir perbincangan mereka, Mentari
menyimpulkan. “Kita tak pernah punya cukup waktu. Aku mencintai orang lain
selain diriku, ku sebut: kau,”
**
Kali ini, seseorang mendekapku
dengan erat. Ia menaruh dagunya di pundakku. Aku melingkarkan kedua lenganku
pada bahunya. Aku mendekapnya, mendegar tiap degup jantungnya. Perlahan, ku
hirup wangi tubuhnya. Atau lebih tepatnya, wangi air rendaman pakaian yang ia
bilang belum bisa ia cuci sendiri.
Dekapannya malam itu menghangatkan
dan menenangkan. Aku terlampau takut untuk berkata—jangan pergi. Aku terlampau
takut untuk berkata, ia adalah alasan baru untuk hidup yang ku jalani. Aku
takut, ia akan pergi jauh, atau ia tak lagi bisa membalas pesan-pesanku,
seperti seorang yang telah jadi bagian bintang di langit malam.
Aku tak ingin mencari atau
menunggu siapa-siapa lagi. Tidak balasan pesan dari seseorang yang sudah jadi
bagian bintang-bintang. Tidak, lagi. Tapi, aku terlampau takut. Aku takut,
telah menempuh jalan sejauh ini dan malah menyerah. Bukan, bukan pada orang
lain, tapi diri sendiri.
-----
Ada banyak cara seseorang untuk
tetap hidup. Jika tak bisa jadi orang yan begitu berharga bagi banyak orang,
setidaknya satu saja cukup. Bagi hidupmu, tentu saja. Tulisan ini, ku tulis
setelah seseorang bilang, aku harus terus melakukan apa yang aku suka. Seseorang
yang telah membaca ceritaku. Jauh, sebelum dapat menaruh dagunya pada pundakku.
Juga, aku menulis, untukku. Untuk diriku sendiri, untuk menyederhanakan segala
macam yang tak dapat ku definisikan sendiri. Dan, untuk mereka yang
menanggalkan jejak, lebih jauh.[]




Tidak ada komentar:
Posting Komentar