"Mungkin sebuah kota, atau sistem kerja yang berpusat di sana, sedang berdentum dengan keras. Berusaha mengingat, tetapi apa?"
**
Dingin. Pengap. Gelap. Sudut kota, gorong-gorong, dini hari dan seorang gadis berusia tujuh tahun. Gorong-gorong berdiameter satu langkah kaki orang dewasa, berbau amis. Warna airnya tak karuan. Kadang merah, seringkali hitam, bergantung pabrik yang terletak di seberang gorong-gorong sedang memproduksi apa. Air gorong-gorong itu memang tak mengalir, ia terhambat karena limbah membawa pula sisa-sisa plastik yang dibuang sembarang, juga kotoran sisa ternak yang dikembangbiakan di atas gorong-gorong. Malam ini, air gorong-gorong makin menggenang. Sebab hujan semakin deras. Terlebih, malam ini airnya tertahan oleh seorang gadis yang meringkuk di hulu gorong-gorong.
Dingin. Pengap. Gelap. Sudut kota, gorong-gorong, dini hari dan seorang gadis berusia tujuh tahun. Gorong-gorong berdiameter satu langkah kaki orang dewasa, berbau amis. Warna airnya tak karuan. Kadang merah, seringkali hitam, bergantung pabrik yang terletak di seberang gorong-gorong sedang memproduksi apa. Air gorong-gorong itu memang tak mengalir, ia terhambat karena limbah membawa pula sisa-sisa plastik yang dibuang sembarang, juga kotoran sisa ternak yang dikembangbiakan di atas gorong-gorong. Malam ini, air gorong-gorong makin menggenang. Sebab hujan semakin deras. Terlebih, malam ini airnya tertahan oleh seorang gadis yang meringkuk di hulu gorong-gorong.
Butiran
air langit, serupa jarum-jarum, menusuk tubuh mungil gadis itu. Menggigil.
Tubuh mungilnya bergerak, rasa sakit disela-sela paha mungilnya, ruang sempit
disekelilingnya. Bau limbah bercampur bau anyir darah. Padanan yang tepat untuk
melepas maut. Hujan yang turun semakin deras. Begitu picik, membiarkan gadis
itu tergenang. Dingin. Kali ini basah. Tergenang, dan tak lagi bergerak. Gadis
itu berharap, ia tak pernah ada.
Pagi
hari, saat adzan subuh baru saja berkumandang. Seorang pemulung berusia setengah
baya, sudah memulai aktivitasnya. Mencari-cari barang yang mungkin saja bisa ia
jual lagi. Pemulung itu mendorong sebuah gerobak. Kemudian, gerobak itu
terhenti. Pemulung itu mulai mencari sesuatu, tapi tak ia temukan. Dengungan
lalat, menguar di hulu sebuah gorong-gorong. Pagi ini, kebisingan belum
dimulai. Deru klakson dan knalpot belum hadir, pemulung itu mendengar suara
dengungan lalat itu dengan cukup jelas. Pemulung itu mendekat, dan menemukan
seorang gadis, dengan baju yang setengah kancingnya entah kemana. Hanya bercak
darah, disela-sela selangkangannya.
Beberapa
jam setelah pemulung itu menemukan gadis itu, foto gadis itu tersebar
dimana-mana. Wajahnya tersebar. Juga, keadaannya, tanpa pakaian bagian bawah,
dan kemaluannya yang jadi headline dimana-mana.
Menjadi bahan liputan dan pemberitaan, guna memenuhi konten mereka yang
memiliki kuasa. Gadis mungil itu menjadi pusat perhatian mereka yang peduli,
atau pura-pura peduli dalam beberapa minggu, lalu dilupakan berminggu-minggu kemudian.
**
Berharap
mati dan jadi bangkai. Sayangnya, nadi gadis itu masih berdenyut. Gadis itu
membuka matanya, menyadari ia belum mati. Lalu, mengutuki diri. Betapa sialnya,
ia harus menjalani hidup. Untuk hidup yang ia sesali, gadis itu hanya ingin
memilih, tak pernah punya ingatan sama sekali. Ia ingin menghilang dari ingatan
siapapun yang pernah atau akan dikenalnya.
Ada. Seharusnya, kalian bisa memanggilku begitu. Tetapi, tentu saja aku tidak suka dipanggil siapapun. Aku benci orang-orang, benci hidup dan benci diriku sendiri. Terlebih, sejak kejadian 14 tahun lalu, aku benci seluruh kehidupanku. Mengapa aku bisa mengingat hal ini ya? Entahlah. Ada bagian dalam diriku yang bisa menghapus apa saja ingatan yang ingin aku hapus. Kecuali, dua hal: ingatan tentang orang yang ku sayangi, dan peristiwa memuakkan 14 tahun lalu itu. Aku pernah tinggal di panti asuhan, pergi lalu lupa pulang. Setiap hari, saat aku terlelap (orang bilang itu tidur namanya). Aku lupa semuanya, atau lebih tepatnya ingin kulupakan. Itulah perayaan sederhana atas hidup yang kujalani ini. Aku bisa membaca, menulis juga. Aku mempelajarinya sebelum peristiwa itu. Ah ya,ngomong-ngomong, saat ini kamu sedang mendengar suara hatiku. Sebab, aku tak mau banyak orang tau tentang kisahku. Pastikan hanya kamu saja yang tahu.
Ada
hidup ditengah-tengah hiruk-pikuk polusi. Pagi hari, Ada terbangun dengan hari
yang selalu baru. Orang-orang selalu baru baginya. Dua tahun ini, Ada hidup di
bawah flyover. Seorang nenek yang
sehari-hari menjual nasi bungkus, dua tahun lalu menyuruh Ada menemaninya
tinggal, dan mulai memberi Ada pengingat. Memo-memo yang tertempel di rumah
kardus milik Nenek, menjadi penanda ingatan Ada. Ada bisa melupakan hal-hal
sederhana, serta ingatan apapun yang menurutnya tak penting, yang ia ingin
lupakan.
Ini di mana? Selalu ada sesak. Mengapa tidak mati saja. Mengapa tidak jadi mayat saja. Tidak perlu dikubur, biar jadi abu. Biar tak perlu digerogoti belatung. Tak perlu jadi bagian-bagian ketiadaan. Cukup jadi debu. Pergi, tak berbatas. Tak ada jejak, tak perlu siapa-siapa. Tanpa nama, kembali tiada, seperti sebelumnya.
Ada
selalu terbangun dengan perasaan seperti itu. Kebingungan, ketiadaan dan awal
yang baru setiap harinya. Sejak melupakan panti asuhannya dulu, Ada memang
hidup menggelandang. Nenek tua yang kesepian, merawat Ada untuk menemani masa
senjanya. Orang-orang memanggil Ada dengan sebutan aneh. Kadang si pikun, si
dungu, si gila. Ada tak pernah marah, sebab ia selalu melupakannya. Orang-orang
memang melihat Ada yang jarang berbicara dan sering melamun, dan menganggapnya
berbeda.
“Nduk[1],
kalau Nenek mati, Nduk nanti sama
siapa ya? Kalau nanti Nenek mati, kamu jangan lupa menulis. Biar tidak lupa
Nduk,” pesan Nenek pada suatu malam. Sambil mengelus rambut sebahu Ada, Nenek
bercerita. Nenek memang tak butuh apa-apa, kecuali didengarkan.
Ada
mendengarkan Nenek. Ada berusaha, mengingat Nenek. Sayangnya, Ada hanya mampu
mengingat wajah Nenek, kisah yang Nenek ceritakan hanya mampu mengantarkan Ada
terlelap, lalu Ada melupakannya saat terbangun.
“Nduk!
Nduk! Nduk!,” Nenek berusaha membangunkan Ada. Kokok ayam yang menjadi penanda
pagi di daerah kumuh bawah flyover
itu belum terdengar. Alarm pagi ini berbeda. Suara deru kendaraan-kendaraan
besar, alat-alat berat yang bersiap merapihkan pemukiman ini. Orang-orang
terkejut, berhambur keluar. Menunda aktivitas yang biasa mereka lakukan. Jerit
tangis ibu-ibu, berbaur dengan adzan subuh.
Aku berlari. Mencari wajah yang ku kenali. Tak ada wajah perempuan itu. Seingatku, ia membangunkanku. Seorang laki-laki, membopong perempuan itu. Aku hanya mampu berlari mengejarnya. Orang-orang begitu banyak. Mereka sedang apa? Ada kendaraan besar dengan sekop yang besar pula. Aku melihat kendaraan itu meruntuhkan rumah. Aku bingung dan tetap mencari wajah yang ku kenali. Orang-orang berkerumun. Aku melihat perempuan yang kukenal itu. Matanya terpejam. Kata orang, dia mati.
**
![]() |
| Gambaran tentang biru, Ada dan sekelumit kehidupannya/ oleh rulyunit |
**
Berbulan-bulan
kemudian, sebuah taman dibangun di bawah flyover
itu. Rumah-rumah kumuh berganti menjadi taman dengan air mancur kecil di tengah
taman. Hamparan rerumputan sintetis, bangku berwarna-warni menjadi padanan
cantik taman flyover itu. Sejak
pembangunan taman itu, Ada selalu berdiam diri di daerah itu. Ada ingin pergi,
tapi kemana? Awalnya, banyak pekerja yang merasa risih dengan kehadiran Ada.
Namun, lama-lama mereka terbiasa. Ada hanya ingin tinggal. Setelah taman flyover itu resmi dibuka, Ada tetap
tinggal dan berdiam disekitaran taman itu.
Aku diam ditempat itu. Aku ingin
pergi tapi tak punya alasan untuk pergi. Kepalaku berdenyut. Sekali. Dua kali.
Berkali-kali. Sisanya ada pusat detakan yang lama-lama menghantam. Mungkin
sebuah kota, atau sistem kerja yang berpusat disana, sedang berdentum dengan
keras. Berusaha mengingat, tetapi apa?
Setiap sore, orang-orang berkumpul. Jumlahnya akan bertambah banyak, terutama jika hari Minggu. Ada tidak mengenal hari, baginya setiap hari selalu baru. Tetapi, satu hari saja Ada mengingatnya. Saat orang-orang datang lebih ramai dari biasanya, dan seorang dengan kotak biru yang selalu menghampirinya. Lelaki itu, membawa kotak biru yang didalamnya terdapat alat tulis, alat gambar dan tumpukan kertas-kertas putih. Sejak taman ramai pengunjung, lelaki itu datang untuk mengajak anak-anak menggambar.
“Masa,”
ucap lelaki itu. Ia mengulurkan tangan kepada Ada. Saat itu, Ada sedang duduk
di salah satu bangku di taman itu. Ada menatap kosong taman dan orang-orang
yang berkumpul disana. Ada menoleh kearah lelaki itu. Lelaki itu tersenyum.
“Mau ikut menggambar?” Lelaki itu mengajak Ada menggambar. Kali ini, sudah ketiga kalinya lelaki itu duduk disamping Ada dan menatap anak-anak yang berlarian, berteriak, dan terjatuh dihadapan mereka.
Ada
menoleh ke arah lelaki itu. Kotak biru yang dibawa lelaki itu, lama-lama membuat
Ada tertarik. Ada mengambil kertas dengan ragu. Lelaki itu kemudian memberi
krayon warna-warni. Mengajari perempuan 20 tahunan itu layaknya anak usia taman
kanak-kanak. Ada melupakan hari, kecuali kotak biru dan lelaki itu.
**
Warna kotak itu sama seperti warna
langit. Biru, katanya. Lelaki itu membawa kotak berisi kertas dan benda
warna-warni. Ia menawariku menuliskan benda warna-warni itu pada kertas. Aku
ragu, namun akhirnya aku mencobanya. Bagus. Lama-lama, aku menunggu kotak biru
itu. Rasanya senang bisa menggoreskan warna-warna itu. Lelaki itu bilang,
gambaranku bagus. Padahal, aku hanya menggoreskan apa yang aku lihat dalam
duniaku.
Hitam.
Gelap. Sebercak cahaya dari lorong-lorong panjang. Gambar-gambar Ada begitu
terasa dekat. Padang ilalang yang menghampar, dan sungai dengan air jernih. Ada
menggambar lagi. Kali ini, gambar Ada membuat lelaki yang membawa kotak biru
itu tertegun.
“Kamu
pernah ke tempat ini?” tanya lelaki itu.
Ada
mengangguk. Ya, setiap hari, jawabku.
Padang
ilalang, sungai dengan air yang jernih. Ada ingin segera menuju dunianya.
Merayakan kehidupan barunya. Tak perlu rumah. Tak perlu diusir, tak ada lagi
saling sikut kekuasaan, sebab semuanya merasa cukup. Tak ada lagi, berita-berita
tentang perempuan yang ditemukan di hulu sungai. Bahkan, tak ada lagi
pemberitaan. Sebab, semuanya sudah terlalu damai. Ya, tiada lagi kehidupan.
Mungkinkah Ada, memiliki masa depan? Tetapi, masa depan siapa?
Namanya Masa. Itu satu yang kuingat
darinya, selain kotak biru. Ia mengenalkanku warna-warna. Padahal, duniaku
lebih indah dengan warna putih. Oh iya, kamu harus tahu. Sekarang, aku sudah
berani mengucap beberapa kata. Hanya dengan Masa. Kotak biru Masa, kini
bertambah isinya dengan buku-buku bergambar. Ada cerita, dan Masa membacakannya
untukku. Kali ini, aku mulai bisa tersenyum. Masa bercerita tentang negeri
diatas awan. Aku ingin tinggal disana. Tapi, kata Masa aku baru bisa tinggal
di sana setelah tertidur.
Sudah lama aku ingin tertidur dan tak bangun lagi. Bagiku, dunia itu lebih menyenangkan. Tetapi, Masa bilang, akan ada waktunya kita memiliki dunia itu. Entah kapan, semoga untukku secepatnya.
Subuh
tadi, seorang perempuan ditemukan tak bernyawa di sudut taman bawah flyover. Dugaan sementara, perempuan itu
hipotermia setelah hujan deras semalam penuh. Ketika lelaki kotak biru itu
sampai taman, ia tak lagi menemukan Ada.
Menjadi lupa itu enak, tak punya beban. Mencoba mengingat apa yang dilupakan itu yang membebani. Aku bersyukur, tak punya ingatan yang cukup. Aku berhenti mengingat, tapi tak berhenti untuk hidup. Mungkin diingatanmu, mungkin dicerita ini, atau mungkin disisa-sisa gambar ditumpukan kotak biru milik Masa.
**
Mengapa
kita harus dilahirkan? Mengapa kita harus saling bertemu satu sama lain? Adakah
jeda diantara ruang-ruang kosong itu untuk ketiadaan? Benarkah jika kita mati,
kita berhak memohon untuk dipertemukan lagi? Bagaimana jika, setelah ketiadaan
itu kita tidak benar-benar akan bertemu? Apakah kita akan sampai pada akhir
yang biasa-biasa saja?
Ada
menemui dunia yang hanya miliknya sendiri. Dunia dari Masa yang selalu baru
baginya.
**Cerita pendek ini pernah diikutsertakan dalam lomba penulisan cerpen, tetapi belum beruntung. Hehe. Hehehe.




