[1]
Seorang lelaki
memanaskan sepeda motornya. Bersiap mengantarkan seorang perempuan. Usianya
lebih dari setengah abad. Tahun ini, ia berumur 54 tahun. Ia bilang, usia
rasulullah SAW hanya sampai 63 tahun, selebihnya bila manusia sanggup hidup
lebih lama dari itu, ia bilang bonus. Secara matematis, 9 tahun lagi.
Selebihnya, ku harap lebih lama lagi. Kami---selain diriku, dua perempuan lain
selalu berdoa untuk keselamatannya.
Lelaki itu, ku harap
pundaknya senantiasa di ringankan. Apapun permasalahan itu, ku harap cinta
pertamaku itu selalu berbahagia. Aku tak pernah lagi ingin ini dan itu. Aku
ingin ia tahu, seberapapun aku menemukan lelaki lainnya, ia tetap lelaki kami.
Jarak kami hanya 1
meter, tapi aku tak pernah sanggup untuk berkata “Teteh sayang bapak,”
seharusnya begitu mudah, namun tanpa kata-kata pun semestinya ia tahu, apapun
yang ku lakukan selama ini, tak ada niatan lain kecuali membahagian ia dan
seorang perempuan yang melahirkanku.
Kadang-kadang aku
berpikir, kapan ya lelaki itu dapat anak-anaku panggil Abah? Pada waktunya
kelak—ku harap kami selalu punya waktu, jauh lebih banyak dari sebelumnya. Aku
ingin melihat anak-anaku bertumbuh, mengenakan seragam sekolah, mencium tangan
kanannya sambil berucap ‘Abah, kami sekolah dulu,’ melihat para lelaki bersiap
ke surau saat azan mulai berkumandang. Sesederhana itu, ku harap kami selalu
punya waktu.
[2]
Tahun-tahun
itu berlalu, bukankah kau bilang, hari-hari yang telah berlalu tak akan
kembali?
Percikan air laut
mengenai wajahmu, kemudian diselingi derai tawa. Maksudku, senyum dan langkah
kaki yang pelan-pelan juga basah. Ombak mulai mendekat, kita sama-sama lekat.
Kemudian menghilang begitu saja.
Aku membayangkan kita
selalu punya deburan ombak. Saling merekat, terpejam dan membiarkan semilir
angin pantai ujung barat menerpa, menghilangkan rindu sisa temu. Betul, kita
punya hari-hari itu, dalam rencana yang lalu. Kau, dibatas jarak yang tak
terbatas. Terlampau jauh, atau terlalu dekat?
Apa kabar dimensi
yang tak terbatas itu? Apa di sana masih penuh bintang-bintang dan gumpalan
permen kapas yang selalu ingin ku bagi? Apa yang terjadi setelah kematian?
Pertanyaan-pertanyaan
sulit, hipotesis yang rumit. Tak bisa
dibuktikan, sebab belum pernah ada yang kembali setelah proses itu. Aku masih
menyimpan sisa mimpi tertidur di sebuah bus disebelahmu, yang diam-diam membelah
malam. Aku merindukan tiap-tiap impian itu. Rasanya begitu kosong, berjalan
sendirian. Kau sedang apa di sana? Masihkah ada sisa pertemuan yang nantinya
harus kita tuntaskan? Aku begitu takut untuk melanjutkan hidup, padahal lepas
dari semua itu aku punya orang-orang baik yang terus menjagaku. Memastikan hari
ini, aku merasa baik-baik saja.
Aku masih mengirimi
direct message pada akunmu, sesekali. Ku kisahkan padamu, aku tetap baik-baik saja.
Meskipun, hidup memang penuh kejutan. Aku tak suka kejutan, tiap hari pun
kelakar dan kejutan yang tak henti-hentinya.
Ku pikir, selepas
pertemuan kita, dan kau pulang lebih dulu ke semesta yang lain itu, aku tak
mampu lagi berpijak. Awalnya memang ku
akui, hanya jika aku beruntung dapat selamat dari patah berkepanjangan itu.
Bulan-bulan penuh kenangan juga air mata. Aku bohong bila tak menyayangimu. Kau
tahu, manusia punya mekanisme hati yang aneh. Ada lorong-lorong dalam labirin
yang isinya bisa kau tempati sendiri. Kau, menempati lorong itu. Ada memori
yang masih dapat ku rekam dengan jelas. Kumpulan memori itu hanya dapat
terkikis oleh waktu. Sampai saat itu tiba, bagian lorong itu tetap diam dan tak
ke mana-mana. Kau, pengisi lorong-lorong itu, selalu. Sampaikan pada
orang-orang yang telah berpulang, aku kan sampai di sana, entah kapan.
[3]
Sebuah lagu mengalun
lembut, tanda pengulangan muncul di daftar lagu ponselku. Aku mengenalnya
seperti menatap diriku sendiri. Kadang, ku pikir ada juga ternyata yang menitipkan
hal-hal lucu pada dirinya. Katanya, aku ialah goresan tinta dalam lembaran
hari-harinya. Bagiku, ia ialah kumpulan cerita yang terlampau aktual. Tiap
hari, selalu ada kisah baru yang kami miliki.
Lelaki itu, berbatas
jarak—saat ini saja. Tapi, bukankah jarak ada untuk saling menjaga? Lelaki itu,
pada dirinya, ia menerbitkan matahariku. Ada hari dan harapan-harapan baru yang
ku taruh pada jari jemarinya. Tiap hari, ku ingin mengenggamnya dengan erat.
Memastikan nadinya berdenyut disisiku, tiap waktu. Bersamanya, ku harap ia dapat
berbagi lelah dan peluh tiap detik. Ku harap, usia kami saling berkurang,
bersamaan. Ku harap, ia dapat menatapku tiap sore.
Tiap akhir pekan, ia
akan menaruh lelah pada kedua lenganku yang mendekapnya erat. Menatap langit biru
sambil berucap sesekali. Begini, saja, cukup. Dunia terlalu kejam untuk dilalui
tanpa bersama. Oligarki di mana-mana, tidak di sini. Kami puya dunia yang cukup
kami saja--oh atau kelak diisi pula oleh anak-anak kami!
Kalau lelaki yang
sedang berbatas jarak membaca ini, ia akan tersipu. Tentu, kapan pernah aku
bertutur padanya kalau aku menyayanginya?
Sesekali, mungkin aku
perlu bertutur padanya. Aku takut, ia pergi tiba-tiba. Aku takut, tak bisa
menatap lekat matanya yang memincing ketika tersenyum. Aku takut, ia tak bisa
lagi mengucap ia menyayangiku. Selalu, begitu. Tapi rasa takut itu perlu ku
kikis pelan-pelan, bukankah hidup memang seharusnya begitu? Tak ada hal yang
dapat dilakukan selain menjalani dengan semestinya.
Kami—aku dan lelaki
yang kini berbatas jarak beberapa ratus kilometer itu, kan punya hari-hari
mendatang tak berbatas jarak. Ku harap, selalu begitu. Ku harap, suara tawa
riang yang ia miliki, juga rona pipiku yang tersipu saat bersamanya selalu
dapat kami lewatkan bersama. Entah sampai kapan, tentu, tak dalam waktu dan
dimensi yang tak berbatas.
Untuk
lelaki yang tetap menjaga perempuan yang menulis ini merasa baik-baik saja,
semoga kasih sayang Sang Maha Pengasih selalu menyertai. Terima kasih untuk
hari lalu, hari ini dan hari-hari mendatang.




