![]() |
| senja dari teras rumah/olehku. |
[1]
Sore itu hujan deras sekali. Apa iya di luar sana
kamu, baik-baik saja? Hujannya di sini, kok khawatirnya di sana. Prolognya
sudah pasti tak mengandung premis yang logis, sama seperti hidup ini, bukan?
Waktu aku menuliskan beberapa kalimat, yang (entah)
mungkin jadi beberapa paragraf ini, aku masih ragu untuk menuliskannya atau
tidak. Setidaknya, aku masih mempertimbangkan lebih baik menuliskan hal ini
atau melanjutkan tugas-tugas kuliahku yang entah kapan akan selesai, atau malah
lebih baik lagi melanjutkan hobiku yang sarat akan manfaat, tertidur. Tapi kurasa, beberapa hal tentangmu, perlu ku
tulis. Untukku, beberapa hal mudah sekali terlupa, sayangnya kamu tak masuk
salah satunya.
Bulan Desember penghujung tahun lalu, aku tak pernah
berpikir akan terlibat (atau) melibatkan diri dengan pesan-pesanmu. Andai saja,
kamu tak mengirimiku sebuah pesan, lalu aku tak membalasnya, atau menanggapi
pesan-pesanmu dengan biasa saja.
Seharusnya, begitu. Mungkin?
Untukmu, yang menurutku selalu punya waktu. Mungkin
tak cuma untukku, tapi bagiku, waktumu salah satu dari beberapa hal yang patut
disyukuri dari perjumpaan kita. Kadang, aku merasa terlalu naif mengapa harus
membalas pesan-pesanmu. Mengapa, harus bercerita hal-hal yang ku jalani sehari
penuh pada ia yang belum tentu peduli.
Awalnya, hari-hari itu aneh. seperti keganjilan yang
kian hari ku coba melogiskannya. Tetapi, kian hari, hari-hari itu berubah
menjadi rutinitas, yang menurutku, cukup memberi jeda disela rutinitas
pikiranku yang kompleks ini.
[2]
Entah, kita sedang apa sebetulnya? Mengisi kekosongan
hari saja mungkin. Atau, menambah kesibukan harimu yang sudah amat padat
itu. Atau, sebetulnya kita tidak perlu
menanyakan ini apa dan bagaimana lalu membiarkannya saja berjalan beriringan?
Entahlah.
Seringkali, aku ingin mengakhiri, atau setidaknya
memberi jarak yang lebih pada waktu yang kita jalani. Meniadakan ucapan selamat
pagi, semangat menjalani hari atau ucapan selamat malam yang menutup hari.
Tapi, aku tidak bisa. Mungkin belum dicoba.
Aku mencoba mengetik lalu menghapuskannya lagi,
sebelum menyatakan “boleh bilang rindu juga?” atau berpikir sebuah kesalahan
besar atau tidak jika tiba-tiba mengirimimu sebuah emoticon hati. Denganmu, aku lebih banyak berpikir. Setidaknya,
mempertimbangkan sesuatu.
Denganmu, aku belajar peduli. Sekadar bertanya kembali
“lagi apa?” “atau “sudah makan belum?” hal-hal sepele yang rasanya tak penting
untuk ditanyakan bagiku. Aku tak terbiasa menanyakan hal-hal itu sebelumnya.
[3]
Dari awal, paragraf ini tentu tak padu. Beberapa
bagian dapat dibaca secara acak, atau tak dibaca sama sekali. Tiba-tiba, aku
berpikir, entah kapan, pada satu waktu, bersamamu atau tidak, ‘ku rasa aku
butuh seseorang untuk berpijak. Mungkin jika bersamamu, aku dapat membuka
lembar demi lembar buku, sama-sama sibuk dengan buku yang kita genggam. Lalu,
sambil malu-malu detakan jam akan menggantinya. Perlahan, senja terbenam, dan
kita sama-sama terlelap, mengganti hari.
Apa iya, kita akan punya hari-hari itu?
Entah hari-hari itu kelak akan jadi perayaan, atau
harapan semata. Meyakini harapan, satu-satunya mekanisme diri yang coba
kubangun tiap hari. Terlebih, aku tak punya apa-apa yang menguatkan selain
kabar dan keseharian kita yang biasa-biasa saja.
**
Untuk alarm mandi pagiku, tetap hidup, berbahagialah.
Dariku, yang mendefinisikanmu sebagai ‘teman baik’ yang menyebalkan.




