Alhamdulillah. Segala puji tak
henti kepada Sang pemilik hari, Ilahi Rabbi. Selamat hari Sabtu! Sebetulnya saya
ingin bercerita tentang hari ini, maksudnya hari ini ya kemarin sore (Jumat
4/12) hanya saja ini pasti jadi latepost hehe. Sebelumnya saya berterimakasih
kepada para pembaca (kalo ada) yang telah dengan sudi membaca kisah saya ini (semoga
ga kepaksa). Jadi begini Der (singkatan reader) hari ini saya berkesempatan
untuk mewawancarai atau lebih tepatnya ngobrol sih hehe dengan seorang mahasiswa
Yaman yang sedang menempuh gelar doktornya di Jakarta. Namanya Mr. Najib. Loh
kok bisa? Ketemu dimana? (Saya anggap reader sekalian ingin tahu). Hari ini saya berniat dengan
kesungguhan hati serta tekad yang kokoh teguh berlapis baja untuk melakukan
liputan ke salah satu event yang diadakan salah satu himpunan mahasiswa di universitas
tempat saya bernaung sekarang. Cielah bernaung, iya sih bernaung dari
interverensi dunia ini yang sedang gonjang-ganjing ini hehe *apasih—skip*
Awalnya, saya hanya akan mewawacarai ketua pelaksananya saja, namun dengan
kemudahan yang telah diberikan jalan oleh Sang Maha Kuasa, saya pun
berkesempatan untuk langsung mewawancarai salah satu pemateri di seminar pada
event ini. Syeikh yang mengisi kegiatan seminar mengenai bahasa Arab ini
berasal dari Sudan, ia didampingi Mr. Najib. Nah dengan Mr. Najib inilah saya
mendapat banyak sekali pengetahuan baru. Mau tau kan? Oke, aku tau kok der
kalian kepo. Mr. Najib ini dari Yaman, kamu
tau gak Der Yaman tuh dimana? Hah? Di samping dia? Oh itu Nyaman yah? :( hehe garing yah, eh
maafiiin. Mr. Najib ini sudah 6 tahun bolak-balik Indonesia-Yaman. Sekarang ini
beliau sedang menempuh pendidikan S3 di Jakarta mengambil jurusan Ilmu Politik.
(Nah loh, ini yang bakal seru!) Sebelumnya, beliau sudah mendapat gelar master
dari salah satu top universitas di Indonesia yang berada di Jogja. Semasa S2
beliau mengambil jurusan agama dan lintas budaya. Jadi gini Der, saya sempat
bertanya kenapa beliau memilih S2 jurusan agama dan lintas budaya di Indonesia.
Jawaban beliau ini membuat saya terhura eh terharu menjadi bagian dari negara
tropis agraris dan seringkali krisis ini hehe. Beliau menjawab karena Indonesia
memiliki banyak agama, suku dan ras yang berbeda-beda.
Beliau bilang, di
Indonesia beliau bisa bertemu dengan orang hindu, budha, islam, nasrani dan
dapat bertemu berbagai macam suku yang ada di Indonesia. Beliau bilang
Indonesia itu memiliki banyak sekali perbedaan dari ras, suku agama tetapi
Indonesia tetap tuh bersatu. Berbeda dengan negara-negara Arab, mayoritas
disana bahkan hampir 100% islam, mereka memiliki budaya yang hampir sama bahasa
yang digunakan juga bahasa Arab tidak seperti Indonesia yang memiliki banyak
sekali bahasa daerah, tapi negara-negara di Arab itu saling berpecah belah. Itu
pula yang mendorong Mr. Ini belajar politik di Indonesia, beliau ingin setelah
lulus nanti dapat turut serta menyelesaikan perpolitikan Arab yang serba kacau
itu.
Dear reader-ku, sungguh haruslah
kita berbangga, bahwa masih banyak sekali orang luar yang belajar di negeri
kita ini. Sebagai negeri multikultural yang serba kaya ini sudah sepatutnya
kita sebagai calon penerus kehidupan dimasa mendatang (semoga diberi umur untuk
masa itu Aamiin) untuk selalu berusaha menjadi manusia yang baik secara hakikinya.
Apapun yang kita kerjakan sekarang, teruslah belajar dan berusaha. Well, saya
selalu meyakini “Yang bersemangat akan kalah dengan yang bersungguh-sungguh!” Oh iya, berkenaan dengan itu Mr. Najib juga bercerita bahwa ketika beliau
S2 di kelas Internasional, dosennya mengharuskan beliau dan mahasiswa yang satu
kelas dengan beliau menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Teman-teman
sekelasnya waktu itu, banyak pula yang kembali ke negara asalnya karena
kesulitan menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia. Berbeda halnya dengan
Mr, beliau dengan tekad yang kuat hanya dengan waktu 4 bulan bisa berbahasa
Indonesia, bagaimana caranya? Setiap malam, beliau menuliskan kata-kata
berbahasa Indonesia. Satu kata bahasa Indonesia bisa beliau tulis hingga 200
kali agar ingat. Ruaaaar biasa! Selain itu menurut beliau yang terpenting
adalah mempraktekannya. Beliau lebih banyak praktek berbicara bahasa Indonesia
ya dengan orang-orang Indonesia seperti supir taksi dan orang-orang yang
ditemuinya setiap hari. Learning by doing,
kata yang tepat untuk menggambarkannya yaa hehe. Para reader-ku, mari berjuang!
(ceritanya semangat pake ekstra banget) Terimakasih jikalau reader
benar-benar ada, semoga tulisan ini bisa membuat reader dan saya sama-sama
bersungguh-sungguh untuk terus belajar belajar dan belajar. Saya jadi ingat,
Ali bin Abi Thalib pernah membagi 3 tingkatan ilmu, dan yang paling puncak
ketika kita memiliki banyak ilmu justru kita berfikir bahwa kita ini tidak ada
apa-apanya dibanding luasnya ilmu itu sendiri. *Uhuk semoga pesannya
tersampaikan*
Salam berbagi dari saya yang selalu
ingin dekat di hati. Hehe..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar