Mereka yang Memilih Mencintai Orang Lain Selain Dirinya Sendiri



Mungkin belum hari ini, bisa jadi---esok atau kapan-kapan.

Sesekali, saya membayangkan bagaimana rasanya jadi ibu. Maksud saya—entah kapan dapat memulai rutinitas hari, jauh sebelum mereka yang terkasih memulai pagi. Sepertiga malam, kala alarm yang diatur tak mampu membuat lelaki yang mendampinginya bangun, ia mesti membisikkan kalimat-kalimat penuh kasih. Volumenya kian tinggi, berulang beberapa kali. Mungkin, beberapa perempuan menyerah dan meninggalkan kekasih mereka, kembali ke dapur: memilih mencuci piring atau menyiapkan menu sarapan dan bekal untuk hari ini. Tentu tak semua perempuan memilih melakukan ini. Tak ada yang lebih baik atau lebih unggul dari perempuan yang justru memilih bangun tepat waktu lalu memilih makanan cepat saji untuk dibekal. Keduanya, atau ketiganya (kau tambahkan opsi sendiri) punya rasa peduli yang sama besarnya bagi orang terkasih.
Kau tahu mungkin Tuhan menitipkan segala macam rapalan kebaikan ketika seseorang menjadi ibu. Mereka—yang entah hatinya terbuat dari apa, mampu menahan rasa sakit sebagai perantara jalan bagi manusia baru. Entah bagaimana rasanya, ketika manusia baru itu harus keluar dari lubang yang begitu kecil. Tuhan menitipkan segala ketahanan itu. Tentu saja Tuhan juga menitipkan  hati yang begitu baja, bagi para perempuan yang belum dititipkan manusia baru itu dalam rahimnya. Hati mereka begitu lapang saat pertanyaan tentang manusia baru itu muncul. Tentu, mereka yang memilih jadi perempuan yang mencintai diri sendiri hingga akhir pun, dibekali limpahan kasih sayang oleh Tuhan. Kau tahu, seharusnya mereka yang penuh pertanyaan usil itu berpikir berkali-kali, sebab tiap perempuan punya waktu dan ruangnya masing-masing.
Saya pikir jika masih diberi ingatan saat bercakap dengan Tuhan sebelum ruh dititipkan dalam rahim, saya tetap memilih dilahirkan. Sekalipun beberapa manusia justru memilih menyesal pernah dilahirkan dan memaki mengapa perempuan itu memutuskan melahirkan mereka ke dunia yang penuh sesak dengan aktivitas menjenuhkan. Perempuan yang dititipkan ruh itu selalu punya harapan: mungkin saja, manusia baru ini punya kehidupan yang lebih baik. Sebagian perempuan lain, mungkin juga memilih menyesal dititipkan manusia baru, tapi bukankah Tuhan tak pernah salah menitip amanah? Seharusnya, begitu. Tapi manusia, bumi dan segala macam terlalu sulit dipahami.
Apakah perempuan yang memilih mencintai orang lain selain dirinya pernah berpikir tentang ini ya? Semisal, bagaimana rasanya menjaga manusia lain dalam hidup ini? Memastikan hari yang dilalui orang-orang terkasihnya baik-baik saja: cukupkah waktu istirahat, cukupkah air bening yang dikonsumsi, adakah seseorang yang melukai hati, cukupkah kebahagiaan yang hari Ini, serta tentu saja segala macam kekhawatiran lain yang tiap hari ia rasa. Bagaimana rasanya, menjadi orang yang paling cemas ketika raut muka mereka yang ia kasihi begitu kusut. Bagaimana---akhirnya ia mampu melepas ego atas kepemilikan diri sendiri, jadi kepemilikan bersama. Waktu-waktu menonton film, membaca buku, menulis pesan, memilih berbelanja baju atau makanan favorit, waktu tamasya dan berswafoto, pergi bertemu teman dan membicarakan hal-hal lain yang menyenangkan hatinya. Mungkin saja, beberapa perempuan melepas segala macam aktivitas itu demi orang-orang terkasih. Beberapa perempuan bahkan melepas mimpi, atau mengubah mimpi-mimpi mereka karena amanah itu.
Tuhan itu, menciptakan hati ibu dari apa sih? Saya curiga, mungkin saja Tuhan menciptakan hati ibu dari serat-serat sutra. Semakin hari, ia memilin serat-serat itu dengan kumpulan kebaikan. Beberapa perempuan dibekali kebaikan dan kelapangan hati yang berlebih. Melihat orang-orang yang dikasihi, tak dapat ditemui lagi.
Satu kali, saya bertemu seorang ibu, yang melepas seseorang yang dikasihinya, Ia bilang, semua anak itu titipan. Amanah, dari Sang Maha Pemberi. Ia bilang, selama ini ia berharap, anak yang dikasihinya itu menemukan hidup yang bahagia: memilih pasangan, menimang cucu, serta yang akan terus mendoakannya, bahkan mensalatkan di akhir usianya kelak. Meskipun serangkaian peristiwa pengharapan itu tak terjadi, ia sudah melakukan sebaik-baik pengorbanan, dan ikhlas jadi jalan yang ia tempuh. Mereka yang pergi dan tak akan kembali di hari ini, mungkin saja bertemu di waktu yang akan datang. Ibu yang ku ceritakan itu, menguatkan orang lain. Padahal kau tahu, siapa yang seharusnya dikuatkan. Kepingan hati orang lain, tentu tak sehancur hati seorang ibu. Anehnya, ibu mampu membuat hal-hal yang ku sebutkan barusan, dengan keadaan baik-baik saja.
Apakah ketika menjadi ibu, atau perempuan yang memutuskan menetapkan hatinya pada manusia lain—saya mampu setangguh itu?
Sebuah catatan, pagi hari sebelum Idulfitri dari seorang perempuan.

Nurul Yunita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram