Menulislah. Sebab ruang-ruang ingatan kita punya tenggat waktu. Menulis ibarat menjejakkan tanda, kita pernah ada. Perihal tenggat waktu, bukankah setiap dari kita selalu berada dalam posisi ini? Bedanya, kita tak pernah tau tenggat waktu yang kita miliki di dunia.
**
Akhir Juli 2018, di
pagi yang dingin itu aku bersiap menjemput seseorangku. Pukul 03.20 WIB, ia
sudah tiba di stasiun Kiaracondong. Letak rumahku di Cimahi, jarak tempuhnya
cukup jauh apabila ‘ku menjemputnya di stasiun itu. Maka, ‘ku bilang “Naik
kereta lokal lagi aja, nanti turun di stasiun Bandung,” ujarku. Awalnya, aku
akan menjemputnya di stasiun Bandung. Namun, kemudian, ia bilang ia sudah
menaiki angkutan umum dan menuju Masjid Agung Bandung untuk menunaikan shalat
subuh di sana.
Sebelum adzan subuh
berkumandang, ibuku (yang kupanggil dengan sebutan mamah) sudah membangunkanku. Mamah tahu, hari ketika seseorangku tiba sudah ‘ku nantikan jauh-jauh hari sebelumnya.
Pukul 05.47 WIB ku bersiap untuk menjemputnya. Ku panaskan mesin sepeda
motorku, lalu bersiap menemuinya. Pukul 06.26 WIB, ia mengirimkanku foto tempat ia
menungguku.
Aku masih mencari-cari
tempat ia menungguku. Sampai kemudian, aku menemuinya. Pun dengan cara yang
aneh. Bodoh rasanya jika aku mengingat pertemuan kedua kami, setelah 2.112 km jarak
yang memisahkan kami.
Kira-kira reka adegannya seperti ini. Bayangkan saja, seorang lelaki, memakai jaket berwarna hijau gelap, celana bahan dan sepatu hitam. Persis, mahasiswa magang. Ia membawa sebuah tas kopor biru dan tas ransel hitam besar, juga sebuah bantal leher. Bantal itu, dikirim perempuan yang mencemaskan lelaki itu, yang sering kali kurang tidur dan istirahat. Lelaki itu duduk di bangku depan pintu masuk Masjid Agung, menghadap ke taman alun-alun yang sedang direnovasi. Ia sedang duduk sambil bersandar. Kemudian, seorang perempuan berbaju abu-abu, berkerudung ungu muda, celana merah marun dan menggendong tas ungu serta menjinjing jaket abu miliknya, tiba-tiba mengagetkan lelaki itu.
Kira-kira reka adegannya seperti ini. Bayangkan saja, seorang lelaki, memakai jaket berwarna hijau gelap, celana bahan dan sepatu hitam. Persis, mahasiswa magang. Ia membawa sebuah tas kopor biru dan tas ransel hitam besar, juga sebuah bantal leher. Bantal itu, dikirim perempuan yang mencemaskan lelaki itu, yang sering kali kurang tidur dan istirahat. Lelaki itu duduk di bangku depan pintu masuk Masjid Agung, menghadap ke taman alun-alun yang sedang direnovasi. Ia sedang duduk sambil bersandar. Kemudian, seorang perempuan berbaju abu-abu, berkerudung ungu muda, celana merah marun dan menggendong tas ungu serta menjinjing jaket abu miliknya, tiba-tiba mengagetkan lelaki itu.
“Dor!” ujar perempuan
itu
“Innalillah” ucap
lelaki itu.
Kemudian, perempuan itu
salah tingkah. Merasa bodoh.
Reka adegan itu, memang
latar pertemuan aku, dan seseorangku. Ku rasa itu awal yang aneh. Beruntungnya,
suasana kikuk kala itu tak berlangsung lama. Aku membuka tas ungu kesayanganku
yang didalamnya sudah tersedia roti dan susu. Roti coklat kesukaanku, yang ku
tawarkan padanya. Juga, susu kemasan rasa coklat. Ia kemudian memakan sedikit
roti yang ku tawarkan padanya.
“Dikit banget. Pantes
kurus. Makan yang banyak. Kurus banget sih,” ujarku sewot.
Aku lupa ia menjawab
apa, tapi aku mengingat senyum khasnya. Mentari pagi itu begitu baik. Ia
mengarahkan cahayanya lembut pada kami yang sedang duduk menghadap taman
alun-alun. Taman alun-alun yang hijau, juga udara kota Bandung yang dingin.
Bersama seseorang, yang jaraknya kala itu hanya beberapa sentimeter saja
dariku. Pagiku, dilewati dengan sederhana. Seperti seseorangku.
Setelah beberapa
percakapan, dan susu coklat yang ia pegang telah tandas, kami bergegas menuju
kos milik temanku. Selama dua hari, seseorangku menginap di sana. Lokasi kos
temanku (lelaki tentunya) di Bandung Utara, dekat dengan kampusku. Alun-alun
Bandung, terletak di pusat kota. Kami pun bergegas.
“Kasian capek, aku aja
lah yang ngendarain motornya,” ujarku.
“Eeeh janganlah. Kuat
kok!” balasnya
Butuh waktu sekitar 20
menit menuju kos temanku. Awalnya, ku kira kami akan terjebak macet. Sebab,
kala itu akhir pekan. Tapi, ternyata jalanan lengang. Ia mengendarai motor,
setelah sebelumnya mengenakan masker berwarna kuning. Masker itu ku kirim
padanya saat ia ulang tahun ke-22, 29 April silam. Selalu kuingatkan,
berkendaralah dengan aman.
Lalu, bak pemandu
wisata mengantarkan turis, sepanjang jalan aku mengenalkan Bandung padanya. Ia
berkendara dengan aman, tak lebih dari 40 km/jam. Kecepatan rata-rata saat aku
mengendarai motor. Ketika sampai kamar kos milik temanku, ia istirahat
sebentar, lalu ku paksa untuk mandi pagi.
“Hayu, katanya mau
pergi lagi. Cepet mandi!” ungkapku.
“Dingin Teh, apa nggak
usah mandi aja?” jawabnya.
“Nggak ih. Masa mau
jalan-jalan engga mandi?” ucapku.
Biasanya, seseorangku
ini ialah orang yang paling bawel menceramahiku untuk mandi pagi. Ah, ya. Aku
lupa bercerita. Seseorangku tinggal di Medan, dan aku tinggal di Cimahi (daerah
Bandung Raya). Setiap pagi, bila tak kuliah, aku malas mandi pagi.
“Rasain, dingin kan!
Makanya, jangan nyuruh mandi pagi terus. Dingin tau di sini mah,” kataku dengan
puasnya.
“Iya, 5 menit lagi ya,”
tuturnya.
Setelah berbagai
alasan, akhirnya ia selesai mandi. Pukul 08.00 WIB, kami memutuskan untuk pergi
jalan-jalan. Ia ingin aku mengajaknya ke daerah Lembang. Perjalanan kami,
memang cukup melelahkan. Tapi juga menggembirakan. Daerah Lembang merupakan dataran
tinggi, udaranya lebih dingin dari rata-rata Bandung dan menyejukkan. Kiri dan
kanan jalanan, tampak berjejer kios-kios penjual tanaman hias dan bunga.
Jalanan menuju Lembang bergelombang. Cukup jauh memang, tapi hamparan
perkebunan sayuran hijau, langit biru dan udara segar kala itu membuat ‘piknik’
kami menyenangkan.
![]() |
| Pemandangan alam daerah Tangkuban Parahu/ olehku |
Kami akhirnya sepakat untuk berkunjung ke Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu. Tak cukup lama di sana, hanya menjalani rutinitas ala turis pada umumnya: mencari tempat foto berlatar terbaik, ber swafoto, bergantian saling mengambil gambar, dan tentu saja meminta tolong pada orang tak dikenal untuk mengambil foto kami berdua.
![]() |
| Mengabadikanmu dalam ponselku/ olehku |
Seseorangku memang
menyebalkan, kami tak berlama-lama di Tangkuban Parahu, sebab ia sakit perut.
Belum biasa dengan dinginnya Bandung, katanya. Dalam perjalanan pulang, ia
memenuhi keinginanku. Sepertinya aneh: aku ingin tidak dimarahi saat tertidur
di motor (dalam keadaan tidak mengendarai a.k.a dibonceng). Sebab, Bapakku,
sering memarahiku jika aku tertidur di motor.
Aku tipikal perempuan
yang biasa mengendarai motorku sendiri. Seringkali, jika pulang dari kampus
terlalu larut, aku memberhentikan sepeda motorku dipinggir jalan, berjeda 5
menit. Hanya untuk memejamkan mata, sebab jarak tempuh dari kampus ke rumahku cukup
jauh, 13 kilometer dan butuh waktu 45 menit hingga 1 jam. Ingin rasanya dapat
tertidur di pundak seseorang. Siang itu, dalam perjalanan pulang dari Tangkuban
Parahu, seseorangku mewujudkannya. Ia membiarkanku tertidur di motor.
**
Seseorangku, hanya
berada dua hari di Bandung. Hari pertama, kami jalan-jalan. Pergi ke Lembang,
mengunjungi kampusku, mengunjungi sekretariat unit pers mahasiswa ku. Lalu, ia
ingin diajak jalan-jalan keliling kampusku (yang langsung ku tolak) karena
kampusku lumayan luas (tanpa maksud riya’) dan berkeliling tidak boleh pakai
motor. Akhirnya, kami hanya memutuskan untuk mengambil beberapa gambar di depan
gedung isola. Sempat, kami pun video call
dengan sahabatnya, Enggar namanya. Karena Enggar juga, kami pertama berkenalan
(selain karena memang kami terlibat di acara yang sama saat Desember tahun
lalu).
Seseorangku ingin menunaikan shalat magrib di kampusku.
Lalu, kami pun menunaikan shalat magrib di sana. Selepas magrib, ponselku
bergetar. Sebuah pesan whatsaspp dari seseorangku.
“Teh, pintu keluarnya
di mana ya?” tanya seseorangku.
"Di pintu keluar," balasku.
Namun, tak lama
kemudian, ia berhasil juga menemukanku. Kami pun segera pergi ke taman sejarah,
sekaligus taman balaikota. Kami, menghabiskan malam minggu bersama. Satu dari
sekian janji yang telah ia penuhi.
**
Untuk seseorangku, saat
ini ‘ku sedang mulai mencoba untuk menulis lagi. Beberapa tulisanku berikutnya,
masih tentangmu juga tentang kita. Tentang waktu, serta hari lalu yang
menguatkanku. Menulis, bisa jadi pengingat tentangmu. Sebab, rutinitasku
bersamamu tak lagi bisa kulakukan: menunggu ruang obrolanmu online. Lalu, membalas pesan-pesanku.
Aku menghela nafas. Bulir-bulir air mataku, sudah semestinya ku tanggalkan. Sebab, bukankah katamu aku harus menjadi perempuan yang tegar dan kuat?
![]() |
| Turis (kiri) berfoto dengan pemandu wisata (kanan)/ oleh Bapak-bapak baik hati yang entah siapa |
“Teteh harus jadi
perempuan yang kuat, jangan sedih-sedih lagi,” pesanmu disela-sela cerita
sendu, juga tentang rindu yang seringkali ku keluhkan. []






