Laut itu luas. Langit diatasnya
biru dengan awan putih yang bergerak cepat. Seorang pelaut dan pantai menjadi frame indah dalam sebuah lukisan.
Tinta-tintanya tergores rapi diatas kanvas. Sayangnya, hidup ini tak begitu
indah hanya dalam kanvas. Tak selamanya, yang baik-baik saja benar-benar baik. Aku
memandangi lukisan yang terpajang disalah satu sudut pameran. Lambat laut,
lukisan itu seakan bercerita. Ia seakan bercerita tentang sepi dan ragu.
Keduanya berpadu dalam redaman rindu yang teramat dalam.
***
Mata pelaut itu terpejam. Ia
berharap semuanya hanya mimpi. Matanya terbuka, menatap sekelilingnya. Masih
sama, laut itu masih luas nan biru, hamparan pasir yang mengelilinginya masih
sama, sepanjang pantai inipun masih sama: kosong. Tak ada orang lagi selain
dirinya. Sayup-sayup air laut mengenai jemari kaki pelaut itu, angin pantai
bertiup pelan, menyisir rambut-rambut halus sang pelaut. Ia terpejam sekali
lagi. Kali ini, air mata mulai bermunculan dari sudut-sudut mata sang pelaut.
Dalam pejaman matanya kali ini, sang pelaut teringat akan tanah kelahirannya.
Tempat awal ia berpijak.
Ia tau tempat untuk pulang, tapi hatinya ragu untuk kembali. Masihkah tempat itu ada untuknya? Pelaut ini tidak baik-baik saja. Ia tak punya apa-apa lagi. Ragu, pelaut itu ragu untuk kembali. Apakah tanah kelahirannya akan sama setelah ia pergi begitu lama?
Tak ada kata kembali. Sejak pelaut
itu memutuskan untuk pergi dari tanah kelahirannya, ia telah memutuskan untuk
tidak kembali. Namun, setelah ribuan pulau dijumpai, entah berapa samudra lagi
telah ia lalui, pada akhirnya ia ingin kembali pulang. Kembali pada tempat
dimana ia berasal. Pada akhirnya, pelaut itu berbisik pada laut. Tentang ia dan
tentang hatinya.
***
Aku bukan seorang pelaut yang baik-baik saja. Ku akui itu. Aku
melintasi ratusan mil samudra, tak sedikit ku terluka. Aku bukan pelaut yang baik-baik
saja. Pernah satu kali, saat aku terluka, aku tak punya apa-apa. Ku basuh
lukaku dengan air laut. Pedih sekali, tapi kau tentu tau pedih teramat sangat
ialah ketika pertama kali kuputuskan untuk pergi. Teramat jauh.
Bagaimana aku dapat
mendefinisikanmu, jika kata yang kurangkai belum dapat ku bentuk? Aku ingin
pulang. Dan kuakui, aku merindumu terlalu dalam.
Aku bukan seorang pelaut yang baik-baik saja. Setiap malam, ketika
cahaya mentari memantul pada sang rembulan dan ribuan planet nun jauh disana
bersinar, aku selalu kesepian. Aku hanya punya satu keyakinan: ketika ku
kembali nanti, kamu masih sama. Masih menungguku.
***
Lukisan di sudut pameran itu
akhirnya berhenti bercerita. Pada akhirnya, sang pelaut tentu harus kembali. Entah
kapan, atau berapa lama ia memutuskan untuk kembali. Tapi, bukankah tempat
untuk pulang selalu ditunggu?
Teruntuk yang membuatku merasa pulang,
MungkinTuhan mengirimku untuk pergi, agar aku dapat mendefinisikan kata
‘pulang’
Melatihku ‘tuk membuat premis-premis logis atas ketidakhadiranmu.
Dan menarik kesimpulan pada negasi benci yang tertuju untukmu.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar