Lelaki Dibatas Jarak


One fine day/Nurul Yunita

[1]
Seorang lelaki memanaskan sepeda motornya. Bersiap mengantarkan seorang perempuan. Usianya lebih dari setengah abad. Tahun ini, ia berumur 54 tahun. Ia bilang, usia rasulullah SAW hanya sampai 63 tahun, selebihnya bila manusia sanggup hidup lebih lama dari itu, ia bilang bonus. Secara matematis, 9 tahun lagi. Selebihnya, ku harap lebih lama lagi. Kami---selain diriku, dua perempuan lain selalu berdoa untuk keselamatannya.
Lelaki itu, ku harap pundaknya senantiasa di ringankan. Apapun permasalahan itu, ku harap cinta pertamaku itu selalu berbahagia. Aku tak pernah lagi ingin ini dan itu. Aku ingin ia tahu, seberapapun aku menemukan lelaki lainnya, ia tetap lelaki kami.
Jarak kami hanya 1 meter, tapi aku tak pernah sanggup untuk berkata “Teteh sayang bapak,” seharusnya begitu mudah, namun tanpa kata-kata pun semestinya ia tahu, apapun yang ku lakukan selama ini, tak ada niatan lain kecuali membahagian ia dan seorang perempuan yang melahirkanku.
Kadang-kadang aku berpikir, kapan ya lelaki itu dapat anak-anaku panggil Abah? Pada waktunya kelak—ku harap kami selalu punya waktu, jauh lebih banyak dari sebelumnya. Aku ingin melihat anak-anaku bertumbuh, mengenakan seragam sekolah, mencium tangan kanannya sambil berucap ‘Abah, kami sekolah dulu,’ melihat para lelaki bersiap ke surau saat azan mulai berkumandang. Sesederhana itu, ku harap kami selalu punya waktu.
[2]
Tahun-tahun itu berlalu, bukankah kau bilang, hari-hari yang telah berlalu tak akan kembali?
Percikan air laut mengenai wajahmu, kemudian diselingi derai tawa. Maksudku, senyum dan langkah kaki yang pelan-pelan juga basah. Ombak mulai mendekat, kita sama-sama lekat. Kemudian menghilang begitu saja.
Aku membayangkan kita selalu punya deburan ombak. Saling merekat, terpejam dan membiarkan semilir angin pantai ujung barat menerpa, menghilangkan rindu sisa temu. Betul, kita punya hari-hari itu, dalam rencana yang lalu. Kau, dibatas jarak yang tak terbatas. Terlampau jauh, atau terlalu dekat?
Apa kabar dimensi yang tak terbatas itu? Apa di sana masih penuh bintang-bintang dan gumpalan permen kapas yang selalu ingin ku bagi? Apa yang terjadi setelah kematian?
Pertanyaan-pertanyaan sulit,  hipotesis yang rumit. Tak bisa dibuktikan, sebab belum pernah ada yang kembali setelah proses itu. Aku masih menyimpan sisa mimpi tertidur di sebuah bus disebelahmu, yang diam-diam membelah malam. Aku merindukan tiap-tiap impian itu. Rasanya begitu kosong, berjalan sendirian. Kau sedang apa di sana? Masihkah ada sisa pertemuan yang nantinya harus kita tuntaskan? Aku begitu takut untuk melanjutkan hidup, padahal lepas dari semua itu aku punya orang-orang baik yang terus menjagaku. Memastikan hari ini, aku merasa baik-baik saja.
Aku masih mengirimi direct message pada akunmu, sesekali. Ku kisahkan padamu, aku tetap baik-baik saja. Meskipun, hidup memang penuh kejutan. Aku tak suka kejutan, tiap hari pun kelakar dan kejutan yang tak henti-hentinya.
Ku pikir, selepas pertemuan kita, dan kau pulang lebih dulu ke semesta yang lain itu, aku tak mampu lagi berpijak. Awalnya memang  ku akui, hanya jika aku beruntung dapat selamat dari patah berkepanjangan itu. Bulan-bulan penuh kenangan juga air mata. Aku bohong bila tak menyayangimu. Kau tahu, manusia punya mekanisme hati yang aneh. Ada lorong-lorong dalam labirin yang isinya bisa kau tempati sendiri. Kau, menempati lorong itu. Ada memori yang masih dapat ku rekam dengan jelas. Kumpulan memori itu hanya dapat terkikis oleh waktu. Sampai saat itu tiba, bagian lorong itu tetap diam dan tak ke mana-mana. Kau, pengisi lorong-lorong itu, selalu. Sampaikan pada orang-orang yang telah berpulang, aku kan sampai di sana, entah kapan.
 [3]
Sebuah lagu mengalun lembut, tanda pengulangan muncul di daftar lagu ponselku. Aku mengenalnya seperti menatap diriku sendiri. Kadang, ku pikir ada juga ternyata yang menitipkan hal-hal lucu pada dirinya. Katanya, aku ialah goresan tinta dalam lembaran hari-harinya. Bagiku, ia ialah kumpulan cerita yang terlampau aktual. Tiap hari, selalu ada kisah baru yang kami miliki.
Lelaki itu, berbatas jarak—saat ini saja. Tapi, bukankah jarak ada untuk saling menjaga? Lelaki itu, pada dirinya, ia menerbitkan matahariku. Ada hari dan harapan-harapan baru yang ku taruh pada jari jemarinya. Tiap hari, ku ingin mengenggamnya dengan erat. Memastikan nadinya berdenyut disisiku, tiap waktu. Bersamanya, ku harap ia dapat berbagi lelah dan peluh tiap detik. Ku harap, usia kami saling berkurang, bersamaan. Ku harap, ia dapat menatapku tiap sore.
Tiap akhir pekan, ia akan menaruh lelah pada kedua lenganku yang mendekapnya erat. Menatap langit biru sambil berucap sesekali. Begini, saja, cukup. Dunia terlalu kejam untuk dilalui tanpa bersama. Oligarki di mana-mana, tidak di sini. Kami puya dunia yang cukup kami saja--oh atau kelak diisi pula oleh anak-anak kami!
Kalau lelaki yang sedang berbatas jarak membaca ini, ia akan tersipu. Tentu, kapan pernah aku bertutur padanya kalau aku menyayanginya?
Sesekali, mungkin aku perlu bertutur padanya. Aku takut, ia pergi tiba-tiba. Aku takut, tak bisa menatap lekat matanya yang memincing ketika tersenyum. Aku takut, ia tak bisa lagi mengucap ia menyayangiku. Selalu, begitu. Tapi rasa takut itu perlu ku kikis pelan-pelan, bukankah hidup memang seharusnya begitu? Tak ada hal yang dapat dilakukan selain menjalani dengan semestinya.
Kami—aku dan lelaki yang kini berbatas jarak beberapa ratus kilometer itu, kan punya hari-hari mendatang tak berbatas jarak. Ku harap, selalu begitu. Ku harap, suara tawa riang yang ia miliki, juga rona pipiku yang tersipu saat bersamanya selalu dapat kami lewatkan bersama. Entah sampai kapan, tentu, tak dalam waktu dan dimensi yang tak berbatas.
Untuk lelaki yang tetap menjaga perempuan yang menulis ini merasa baik-baik saja, semoga kasih sayang Sang Maha Pengasih selalu menyertai. Terima kasih untuk hari lalu, hari ini dan hari-hari mendatang.



Nurul Yunita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram