Dari Caca, Catatan untuk si Pejuang Kebaikan
![]() |
| Aduh auratnya, Neng! |
Wiiiiiih
siapa tuh? Imut amat ya Neng~
Iya,
iya. Itu aku. Aku yang kanan lohhh! Perempuan imut (padahal jutek sih) berambut
pendek, pake jepitan kupu-kupu, pake rok padahal hobinya naik pager tetangga! Btw, gambar tersebut hasil foto doiku loh waktu doi ke rumah dan ‘ku tunjukkan
album fotoku, keluargaku, serta masa kecilku yang ternyata ku waktu kecil buluk
sekali (sekarang juga sih wkwk).
Oke-oke.
Tulisan ini nampaknya akan lebih bertutur tentangku, sebab di tengah cuaca
Cimahi yang sedang mendung-sendu-guguludugan (re: banyak suara petir) ku merasa
perlu bercerita dan mengetik beberapa hal. Sila di skip bila ternyata paragraf awal ini tidak menarik minat khalayak
ramai.
**
Baiklah..
halo hai-hai! Setelah tulisan sebelumnya pemilihan diksinya baku, kali ini mau
coba tulis dengan bahasa yang Caca banget aja ya. Judul di atas juga sudah
jelas ya, curhat. Jadi, berusaha santuuy, Fyi, buat yang tanya Caca itu siapa,
Caca itu yang nulis di blog ini. Semenjak masuk kampus banyak dipanggil Caca
oleh khalayak ramai *sekian fyi, mari lanjut!
Untuk
jadi perhatian aja nih, di bawah ini pemilihan kata ganti akan erat dengan kata
Caca dan aku. Beberapa hal yang akan ditulis ini, banyak yang belum tahu kali
ya. Kalo yang udah deket, pasti tau sih si Caca itu gimana hoho. Baiklah ku
mulai ya, setelah bertahun-tahun lamanya, perempuan yang foto di atas tuh, kini
sudah bertumbuh menjadi seorang perempuan yang punya beberapa prinsip (halahh,
apa sik ini~) serius amat ya prinsip, Neng.
Being
Strong Independent Woman
Hmm.
So Inggris yak haha (ketawa sendiri aja sih). Bahasa sih nggak masalah ya
sebenernya, intinya, Caca nih ya, sedari SMP, semenjak sekolah agak jauh dari
rumah (itungan jauh ialah ketika berangkat dan pulang sekolah naik angkot)
punya motivasi enggak mau ngerepotin orang, dengan prinsip “Orang lain nggak
boleh repot atau terhambat urusannya gara-gara aku”. Sok banget yah? Hmm
dampaknya sih, zaman sekolah (sampe sekarang sih hmm) kalo tugas kelompok, lalu
kelompoknya tidak dapat diandalkan alhasil aku yang riweuh (re: repot). Daaaan,
paling susah kalo nyuruh-nyuruh orang alias diperlukan orang yang teramat peka.
Oke,
jadi narsis yah haha. Lalu, sikapku yang itu ternyata baru terasa saat ini,
saat masuk kuliah berdampak pula pada urusan kisah kasihku (waduhhh
beratttt!!). Gimana-gimana nih? Takut bosen nih tulisannya, oke ku kasih fotoku
dulu.
![]() |
| Foto si anak TK yang udah kuliah~ |
HIYYYYYY!!!
Sesuai
dengan prinsip di sub judul, Caca nih bukan tipikal perempuan yang ingin
bergantung ataupun tergantung sama orang lain. Menurutku, ya selama kita bisa
ngelakuin hal sendiri, ya lakuinlah. Termasuk dalam menjalin hubungan dengan
lelaki. Semenjak kuliah memang sering kemana-mana sendiri. Beli buku sendiri,
nonton bioskop sendiri, jajan sambil beli makan dipinggir jalan sendiri, donor
darah sendiri, dateng ke event-event
gratisan sendiri, naik motor sendiri, apa lagi yak. Btw, artian sendiri yang
disebutkan berarti perginya sendiri yah, bukan di tempatnya. Ya, di bioskop
pasti rame lah, di tempat donor darah juga gak mungkin sendiri kan nggak bisa
nyuntik sendiri😆 (oke, ini deskripsi aja biar ga
bingung. Eh, masih bingung? Pegangan lah~)
Bukan
berarti ngga punya temen loh, aku sering kok pergi atau diskusi sama
temen-temen juga hoho. Caca tipikal perempuan yang gampang kenal (alias so
akrab aja sih) sama orang. Mereun,
alias katanya orang-orang sih gitu. Kemudian, sub judul di atas, yang juga
motto hidup yang ku tulis di nametag waktu masuk universitas, bermaksud
mendeskripsikan diriku yang ingin sekali mandiri (bukan endorse bank ya)
menjadi perempuan yang kuat a.k.a tegar sebab ku sebetulnya sangat amat cengeng
dan manja haha. Gampang nangis, gampang stress, gampang berubah moodnya. Dear
doi-ku, trims tissuenya waktu ku menangis pas kamu mau pergi dari Bandung huhu.
Sebuah Korelasi, Tentang Doi-ku
Terus
korelasinya apa nih sama sub sebelumnya? Sabarrr. Ku kan menjelaskannya lagi.
Sebab sering sendiri kemana-mana, biasanya nih sejak masuk kuliah di tahun 2015
hingga kini, turut serta pertanyaan khalayak ramai macam
“Ca, sama siapa?” kalo ke kondangan nanyain: “Mana calonnya?” atau kalau ketemu sobat-sobat lamaku bertanya: “Lagi deket sama siapa?”
Pertanyaan-pertanyaan
tersebut biasanya hanya dibalas dengan senyuman. Seperti ini:
| SENYUM!!!! (Khalayak ramai boleh mual kok~) |
Kalo
bukan orang-orang yang deket banget atau orang yang sehari-hari bareng
kegiatan, taunya ngga sama siapa-siapa. PADAHAL… Ya, memang~
Tapi,
kalo sobatku yang sehari-hari bersama dan akrab, juga para sobat ghibah sekre pasti tau sih ku pernah
dekat dengan siapa. Beberapa tahun lalu, awal kuliah pernah tuh deket dengan
lelaki. Tapi, enggak pacaran. Sebab, semenjak kuliah menurutku konsep pacaran
sudah tidak relevan lagi. Bukan berarti ku menganut nikah muda lohh, bukan.
Nggak mau nikah muda juga (skip,
nanti panjang pembahasannya xoxo).
Menurutku,
jikalau memang kedua belah pihak alias lelaki dan perempuan itu sudah saling
tahu ada perasaan ‘lebih’ ya… udah. Terus apa mesti ada diksi “Mau nggak jadi
pacarku?” Hadeuuh, hehe. Apa iya kalo saling sayang sama orang harus pacaran? Buat
yang bilang harus, aku bukan tipikal yang pilih itu sih. Komitmen itu engga
berarti harus pacaran kan. Hehehe. *Silakan hujat Caca warganet~
Yang
penting nih, dalam relasi kedua belah pihak tercipta iklim yang mendukung kedua
pihak untuk lebih baik. Gitu aja sih. Iya ndak? Baiklah, untuk khalayak ramai
yang tidak menyetujui hal tersebut ya nggak apa-apa. Ndak maksa, kebebasan
berpendapat dijunjung oleh negara ini kan, hehe.
Lalu,
tentang lelaki yang pernah dekat denganku itu, tapi kemudian tidak dekat lagi
sebab menurutku iklim dalam relasi kami tidak lagi baik-baik saja. Untuk alasan
lengkapnya, privacy dong~
Kemudian apa nggak pernah nih Ca, di PHP-in ato di modusin lelaki?
Mengalami
di-PHP-in, pernah dong. Lebih tepatnya, aku yang kegeeran, mungkin? Hmm
sudahlah. Semoga Mas-nya lebih bahagia sekarang haha. Kemudian, perihal
dimodusin lelaki? Ato punya temen cowok? Hmmm. Begini-begini.
Temen
cowok, banyak dong. Secara, dulu aku kan sekolahnya di SMK yang emang
didominasi banyak cowok. Temen cowok-ku ya sering main ke rumah dulu sih ngerjain
tugas. Beberapa memang dianggap anak juga (anak pungut kali ya wkwk) sama orang
tuaku saking seringnya ke rumah. Tapi, ya beneran temen doang. Pas kuliah,
kalau di ruang sekretariat unit kegiatanku, ada aja cowok-cowok yang suka
diskusi, ato kenal sama cowok. Tapi ya temen doang.
Lalu, perihal dimodusin lelaki?
Sebetulnya, kalo boleh mendeskripsikan diri (dari
tadi sih ini sebenarnya) aku ini tipikal perempuan yang cuek. Kalo ada
(utamanya) lelaki dengan firasat awal sedang berusaha untuk ‘lebih dekat’
dengan bertanya: “Lagi ngapain?” atau “Udah makan belum?” hehe biasanya ku
bukan tipikal perempuan yang akan menanyakan kembali pertanyaan semacam itu. Bukan
tipikal yang bakal nanya hal-hal itu lah, karena ngerasa itu privacy. Ya, hak kamu lah mau lagi
ngapain, mau udah makan belum. Kalo ditanya, ya Caca jawablah, cuma ngga nanya
balik aja. Hehe.
Perilaku
tersebut menyebalkan tidak? Tidak kan yah? HMMM…..
| Play: Hmmmm Sabyan 10 jam. Repeat! |
Kemudian,
Caca nih bukan tipikal perempuan yang mau ngasih harapan a.k.a PHP gitu sih.
Makanya, selama ini kalo ada lelaki yang deket dan udah ngerasa ‘beda’ misal
lelaki itu udah mulai modus, maka Caca lebih jutek dan dingin. Memang dari
awal, kalo Caca rasa nggak mungkin dilanjutin, ya ga usah memupuk harapan
apa-apa. Kalo ngga suka, nggak nge klik nih ato ngga ada harapan, Caca to the point. *wadaww maafkan daku yang
jahat ya lelaki.
**
Tulisan
di atas merupakan sebuah pengakuan juga curhatan. Sebab, si doi-ku ini tidak
mengetahui tentang kisah yang ku tuliskan di atas. Ku nggak pernah cerita
tentang pernah dekat dengan siapa, atau orang specialku sebelum bertemu dengan
doi. Doiku nggak pernah nanya juga. Kemudian, ya.. buat apa juga (lebih tau)
tentang masa lalu, ketika kami (aku dan doi-ku) punya hari-hari yang dapat kami
jalani bersama? Ceilah apa sih~
Ini
juga bisa bisa jadi latar belakang sih di tulisan berikutnya. Akhir 2017 lalu,
saat pertama kali dekat dengan doiku, doi ngalamin tuh ku bales singkat, atau
tidak ku tanyai lagi ketika doi sok akrab nanyain “Lagi apa?” “Udah makan
belum?” “Udah siap rapatnya, Teh?”
Doiku
bawel sekali ternyata. Dulu risih sekali, tapi sekarang rindu (bukan Rindu
Jabar Juara slogan paslon pemilukada kemarin). Oke, di next tulisan, ku kan
ceritakan tentang doiku, dan hari-harinya yang mengubah kebiasaan perempuan
yang mengunggah tulisan ini.
**
Nb.
Maafkan futu-futu ku yang mengganggu layar gawai khalayak ramai.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar