#2 Ini Curhatan Caca, A!


Dari Caca, Catatan untuk si Pejuang Kebaikan

Aduh auratnya, Neng! 

Wiiiiiih siapa tuh? Imut amat ya Neng~
Iya, iya. Itu aku. Aku yang kanan lohhh! Perempuan imut (padahal jutek sih) berambut pendek, pake jepitan kupu-kupu, pake rok padahal hobinya naik pager tetangga! Btw, gambar tersebut hasil foto doiku loh waktu doi ke rumah dan ‘ku tunjukkan album fotoku, keluargaku, serta masa kecilku yang ternyata ku waktu kecil buluk sekali (sekarang juga sih wkwk).
Oke-oke. Tulisan ini nampaknya akan lebih bertutur tentangku, sebab di tengah cuaca Cimahi yang sedang mendung-sendu-guguludugan (re: banyak suara petir) ku merasa perlu bercerita dan mengetik beberapa hal. Sila di skip bila ternyata paragraf awal ini tidak menarik minat khalayak ramai.
**
Baiklah.. halo hai-hai! Setelah tulisan sebelumnya pemilihan diksinya baku, kali ini mau coba tulis dengan bahasa yang Caca banget aja ya. Judul di atas juga sudah jelas ya, curhat. Jadi, berusaha santuuy, Fyi, buat yang tanya Caca itu siapa, Caca itu yang nulis di blog ini. Semenjak masuk kampus banyak dipanggil Caca oleh khalayak ramai *sekian fyi, mari lanjut!
Untuk jadi perhatian aja nih, di bawah ini pemilihan kata ganti akan erat dengan kata Caca dan aku. Beberapa hal yang akan ditulis ini, banyak yang belum tahu kali ya. Kalo yang udah deket, pasti tau sih si Caca itu gimana hoho. Baiklah ku mulai ya, setelah bertahun-tahun lamanya, perempuan yang foto di atas tuh, kini sudah bertumbuh menjadi seorang perempuan yang punya beberapa prinsip (halahh, apa sik ini~) serius amat ya prinsip, Neng.

Being Strong Independent Woman
Hmm. So Inggris yak haha (ketawa sendiri aja sih). Bahasa sih nggak masalah ya sebenernya, intinya, Caca nih ya, sedari SMP, semenjak sekolah agak jauh dari rumah (itungan jauh ialah ketika berangkat dan pulang sekolah naik angkot) punya motivasi enggak mau ngerepotin orang, dengan prinsip “Orang lain nggak boleh repot atau terhambat urusannya gara-gara aku”. Sok banget yah? Hmm dampaknya sih, zaman sekolah (sampe sekarang sih hmm) kalo tugas kelompok, lalu kelompoknya tidak dapat diandalkan alhasil aku yang riweuh (re: repot). Daaaan, paling susah kalo nyuruh-nyuruh orang alias diperlukan orang yang teramat peka.
Oke, jadi narsis yah haha. Lalu, sikapku yang itu ternyata baru terasa saat ini, saat masuk kuliah berdampak pula pada urusan kisah kasihku (waduhhh beratttt!!). Gimana-gimana nih? Takut bosen nih tulisannya, oke ku kasih fotoku dulu.

Foto si anak TK yang udah kuliah~

HIYYYYYY!!! 
Sesuai dengan prinsip di sub judul, Caca nih bukan tipikal perempuan yang ingin bergantung ataupun tergantung sama orang lain. Menurutku, ya selama kita bisa ngelakuin hal sendiri, ya lakuinlah. Termasuk dalam menjalin hubungan dengan lelaki. Semenjak kuliah memang sering kemana-mana sendiri. Beli buku sendiri, nonton bioskop sendiri, jajan sambil beli makan dipinggir jalan sendiri, donor darah sendiri, dateng ke event-event gratisan sendiri, naik motor sendiri, apa lagi yak. Btw, artian sendiri yang disebutkan berarti perginya sendiri yah, bukan di tempatnya. Ya, di bioskop pasti rame lah, di tempat donor darah juga gak mungkin sendiri kan nggak bisa nyuntik sendiri😆 (oke, ini deskripsi aja biar ga bingung. Eh, masih bingung? Pegangan lah~)
Bukan berarti ngga punya temen loh, aku sering kok pergi atau diskusi sama temen-temen juga hoho. Caca tipikal perempuan yang gampang kenal (alias so akrab aja sih) sama orang. Mereun, alias katanya orang-orang sih gitu. Kemudian, sub judul di atas, yang juga motto hidup yang ku tulis di nametag waktu masuk universitas, bermaksud mendeskripsikan diriku yang ingin sekali mandiri (bukan endorse bank ya) menjadi perempuan yang kuat a.k.a tegar sebab ku sebetulnya sangat amat cengeng dan manja haha. Gampang nangis, gampang stress, gampang berubah moodnya. Dear doi-ku, trims tissuenya waktu ku menangis pas kamu mau pergi dari Bandung huhu.

Sebuah Korelasi, Tentang Doi-ku
Terus korelasinya apa nih sama sub sebelumnya? Sabarrr. Ku kan menjelaskannya lagi. Sebab sering sendiri kemana-mana, biasanya nih sejak masuk kuliah di tahun 2015 hingga kini, turut serta pertanyaan khalayak ramai macam 
“Ca, sama siapa?” kalo ke kondangan nanyain: “Mana calonnya?” atau kalau ketemu sobat-sobat lamaku bertanya: “Lagi deket sama siapa?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut biasanya hanya dibalas dengan senyuman. Seperti ini:

SENYUM!!!! (Khalayak ramai boleh mual kok~)

Kalo bukan orang-orang yang deket banget atau orang yang sehari-hari bareng kegiatan, taunya ngga sama siapa-siapa. PADAHAL… Ya, memang~

Tapi, kalo sobatku yang sehari-hari bersama dan akrab, juga para sobat ghibah sekre pasti tau sih ku pernah dekat dengan siapa. Beberapa tahun lalu, awal kuliah pernah tuh deket dengan lelaki. Tapi, enggak pacaran. Sebab, semenjak kuliah menurutku konsep pacaran sudah tidak relevan lagi. Bukan berarti ku menganut nikah muda lohh, bukan. Nggak mau nikah muda juga (skip, nanti panjang pembahasannya xoxo).
Menurutku, jikalau memang kedua belah pihak alias lelaki dan perempuan itu sudah saling tahu ada perasaan ‘lebih’ ya… udah. Terus apa mesti ada diksi “Mau nggak jadi pacarku?” Hadeuuh, hehe. Apa iya kalo saling sayang sama orang harus pacaran? Buat yang bilang harus, aku bukan tipikal yang pilih itu sih. Komitmen itu engga berarti harus pacaran kan. Hehehe. *Silakan hujat Caca warganet~
Yang penting nih, dalam relasi kedua belah pihak tercipta iklim yang mendukung kedua pihak untuk lebih baik. Gitu aja sih. Iya ndak? Baiklah, untuk khalayak ramai yang tidak menyetujui hal tersebut ya nggak apa-apa. Ndak maksa, kebebasan berpendapat dijunjung oleh negara ini kan, hehe.
Lalu, tentang lelaki yang pernah dekat denganku itu, tapi kemudian tidak dekat lagi sebab menurutku iklim dalam relasi kami tidak lagi baik-baik saja. Untuk alasan lengkapnya, privacy dong~ 
Kemudian apa nggak pernah nih Ca, di PHP-in ato di modusin lelaki?
Mengalami di-PHP-in, pernah dong. Lebih tepatnya, aku yang kegeeran, mungkin? Hmm sudahlah. Semoga Mas-nya lebih bahagia sekarang haha. Kemudian, perihal dimodusin lelaki? Ato punya temen cowok? Hmmm. Begini-begini.
Temen cowok, banyak dong. Secara, dulu aku kan sekolahnya di SMK yang emang didominasi banyak cowok. Temen cowok-ku ya sering main ke rumah dulu sih ngerjain tugas. Beberapa memang dianggap anak juga (anak pungut kali ya wkwk) sama orang tuaku saking seringnya ke rumah. Tapi, ya beneran temen doang. Pas kuliah, kalau di ruang sekretariat unit kegiatanku, ada aja cowok-cowok yang suka diskusi, ato kenal sama cowok. Tapi ya temen doang.  
Lalu, perihal dimodusin lelaki? 
Sebetulnya, kalo boleh mendeskripsikan diri (dari tadi sih ini sebenarnya) aku ini tipikal perempuan yang cuek. Kalo ada (utamanya) lelaki dengan firasat awal sedang berusaha untuk ‘lebih dekat’ dengan bertanya: “Lagi ngapain?” atau “Udah makan belum?” hehe biasanya ku bukan tipikal perempuan yang akan menanyakan kembali pertanyaan semacam itu. Bukan tipikal yang bakal nanya hal-hal itu lah, karena ngerasa itu privacy. Ya, hak kamu lah mau lagi ngapain, mau udah makan belum. Kalo ditanya, ya Caca jawablah, cuma ngga nanya balik aja. Hehe.

Perilaku tersebut menyebalkan tidak? Tidak kan yah? HMMM…..

Play: Hmmmm Sabyan 10 jam. Repeat!
Kemudian, Caca nih bukan tipikal perempuan yang mau ngasih harapan a.k.a PHP gitu sih. Makanya, selama ini kalo ada lelaki yang deket dan udah ngerasa ‘beda’ misal lelaki itu udah mulai modus, maka Caca lebih jutek dan dingin. Memang dari awal, kalo Caca rasa nggak mungkin dilanjutin, ya ga usah memupuk harapan apa-apa. Kalo ngga suka, nggak nge klik nih ato ngga ada harapan, Caca to the point. *wadaww maafkan daku yang jahat ya lelaki.
**
Tulisan di atas merupakan sebuah pengakuan juga curhatan. Sebab, si doi-ku ini tidak mengetahui tentang kisah yang ku tuliskan di atas. Ku nggak pernah cerita tentang pernah dekat dengan siapa, atau orang specialku sebelum bertemu dengan doi. Doiku nggak pernah nanya juga. Kemudian, ya.. buat apa juga (lebih tau) tentang masa lalu, ketika kami (aku dan doi-ku) punya hari-hari yang dapat kami jalani bersama? Ceilah apa sih~
Ini juga bisa bisa jadi latar belakang sih di tulisan berikutnya. Akhir 2017 lalu, saat pertama kali dekat dengan doiku, doi ngalamin tuh ku bales singkat, atau tidak ku tanyai lagi ketika doi sok akrab nanyain “Lagi apa?” “Udah makan belum?” “Udah siap rapatnya, Teh?”
Doiku bawel sekali ternyata. Dulu risih sekali, tapi sekarang rindu (bukan Rindu Jabar Juara slogan paslon pemilukada kemarin). Oke, di next tulisan, ku kan ceritakan tentang doiku, dan hari-harinya yang mengubah kebiasaan perempuan yang mengunggah tulisan ini.
**
Nb. Maafkan futu-futu ku yang mengganggu layar gawai khalayak ramai.

Unknown

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram