Bertandang ke Rumah Brand Ambassador Napoleon

Ramadan ke-27 1440 H, di sebuah kamar, seseorang menuliskan ini. Baru saja, buku-buku ditata ulang. Sebuah memo ditulis. “Sudah baca buku belum, hari ini?” Angin bertiup perlahan, menghembus gorden yang menyejukkan ruangan ini. Aku menulis lagi, masih tetap tentangmu, seseorang yang masih ku jadikan latar layar ponselku. Banyak hal yang belum ku tuliskan, perlahan mulai ku tata ulang. Bagaimana rasanya menemuimu lagi, menjejak ujung barat Indonesia, bertemu sahabatmu lagi, mulai bertemu anak-anak, malam-malam penuh revisi, hingga memenuhi janji lulus tahun ini—tepat di hari ulang tahunmu. Harus dari mana ku mulai? Beberapa, sudah ku tulis jauh hari, baru sempat ku koreksi dan ku unggah. Semoga, lapang dan bahagia selalu mengiringimu.
Untuk tahun penuh kenangan, 2018.
“Kok bisa jadi brand Ambassador Napoleon?”
“Berarti, aku lagi chat sama artis dong!” sederet pesan yang ada di ruang obrolan milik lelaki bermata panda dan seorang perempuan yang malas mandi pagi.
“Panjang ceritanya,” balasmu. Kau, lalu mengirimkan tautan video instagrammu dan menjabarkan penyebab kau jadi brand ambassador kue artis itu.
Aku jadi mengingat percakapan itu, sebab ternyata itu hal yang wajar untuk lelaki dengan pencapaian yang (amat) banyak sepertimu.

Waktu kau mengirimkan ini, ku berkata: Geer betul kau Boy!

Aku sampai ke rumahmu lepas azan isya berkumandang. Enggar menemaniku bertandang ke rumahmu. Sepertinya ada yang terlewat yang tak ku ceritakan, ya. Sebelum aku tiba di kotamu, aku sudah bertukar kabar dengan adikmu. Saat kau berhenti mengirimiku pesan, aku lebih sering bertukar pesan dengan adikmu. Semenjak siang, aku sudah mengabari adik perempuanmu.
Rumahmu, tak jauh dari pajak---sebutan jalan besar di kotamu. Ibumu, baru saja menutup jualan, adik perempuanmu bergegas menyapaku, adik lelakimu belum nampak waktu aku sampai di rumahmu. Ada motor honda tempo dulu, yang pernah kau kirim fotonya lalu kau tulis, “Cepat ke Medan Teh, diajak keliling naik ini,”. Ku ingat, kau juga pernah berfoto dengan motor itu dengan gaya “Bukan Dilan 1990”.
Malam itu, pertama kalinya aku mendekap ibumu. Kami, hanya pernah bertegur sapa lewat ponsel, tepatnya seminggu setelah kau berhenti menghubungiku. Awal Agustus itu, hampir satu jam, Ibumu bercerita segala tentang kau, tentang anak lelaki pendiam, yang tak pernah menyakiti hati. Akhir percakapan kami waktu itu, ibumu bilang “Kalau main ke Medan, tengok, mampirlah ke rumah kami Ca,” ujarnya.
Aku, mau main, Bu. Entah bagaimana dan kapan kesempatan itu ada. Tapi, Tuhan Maha Baik, semua yang terjadi sesuai ketetapan-Nya. Oktober 2018, malam itu, aku sampai di rumahmu. Bertemu dengan ibu, ayah, adik perempuanmu, juga adik lelakimu yang sering kita bahas dalam ruang obrolan kita.
Entah kenapa aku salah tingkah sendiri. Tak lama setelah turun dari boncengan kereta (sepeda motor,- red) yang dikendarai Enggar, aku mencium tangan ibumu. Lalu, kami saling mendekap. Malam itu, aku tak menangis. Meskipun kau tahu, aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangis itu. Aku mengembangkan senyumku. Aku malu. Itu pertama kalinya aku bertemu dengan orang tua dari seseorang yang spesial bagiku. Lelaki bermata panda, kita impas, ya! Aku sudah berkenalan juga dengan keluargamu.
Ibumu, kemudian menunjukkan foto-foto masa kecilmu, juga sertifikat yang entah berapa banyak kau miliki. Lalu, ibu menunjukkan dompetmu, yang masih terselip fotoku. 
“Ada foto Caca di dompetnya, gapapa ya Ca, untuk kenang-kenangan,” ujar ibumu. Aku tersenyum “Iya, gapapa ibu,” ujarku.
Enggar, aku, Ibumu dan adik perempuanmu bercakap tentangmu. Saat kami masih bercakap-cakap, adik lelakimu datang. Ia baru selesai mengaji. Adik lelakimu, yang seringkali jadi topik pembicaraan di ruang obrolan kita. Ia menyalamiku. Ku panggil namanya. Awalnya, ia malu-malu. Tapi, lama-lama, ia malah bermanja-manja di dekatku. Ia bahkan tertidur di sampingku. Adikmu lucu, ia juga pintar.
Keluargamu baik, padahal aku bukan siapa-siapa. Pantas, kau tumbuh jadi lelaki yang amat baik juga punya keinginan besar untuk berbagi dan menularkan semangat kebaikan. Cukup lama aku dan Enggar bertandang ke rumahmu. Kami, makan malam di rumahmu, menunya: mie ayam. Enak!
Sambil menghabiskan makan malam, Ibumu juga bercerita tentang perempuan-perempuan ‘spesial’ dalam hidupmu. Abang-abang brand ambassador Napoleon, wajar ya banyak fans, pikirku. Ibu bilang, kau pernah susah move on selepas zaman putih abu. Ibu bilang, kau tak pernah cerita-cerita tentang perempuan spesialmu. Tapi, ibu tahu aku sempat mengirimkanmu paket waktu kau berulang tahun April lalu. Ibu juga tahu, kau pernah bertandang ke rumahku—tentu informasi ini bukan diperoleh langsung dari kau. Ibu dan adik perempuanmu bilang, kau pendiam kalau di rumah.
Ah ya, malam itu, Enggar juga cerita ada beberapa perempuan yang sempat dekat saat kau di kampus. Tapi, kata Enggar, kau tipikal yang kalau sudah memilih satu perempuan, ya sudah. ((YA SUDAH)). Kau tahu, aku bukan tipikal perempuan yang terlalu peduli pada masa lalu seseorang, tapi apapun yang bersangkutan tentang kau, ku rasa aku terlalu peduli. Sialnya, malam itu aku kesal sendiri.
Lelaki bermata panda yang mengesalkan. Huh. Ingin rasanya malam itu tiba-tiba mengirimimu pesan dengan banyak emoticon kesal atau spam membalas pesan dengan satu huruf. Sayangnya, malam itu selepas aku bertandang ke rumahmu dan kembali ke kosan Tia, aku malah merindukanmu.
Rasa sesak itu rupanya makin menguat saat bermalam di kotamu. “Aku sampai, katanya mau keliling-keliling?” ingin rasanya berkata seperti itu. Tapi, katamu, “Kalau rindu, sering-sering dengerin itu (rekaman quran yang kau kirim sehari, sebelum kau berhenti mengirimiku rekaman lagi) aja,”
27 Oktober 2018
Deretan pohon rindang, angin berhembus perlahan. Cuaca kota Medan begitu  terik, tapi tak terasa begitu aku tiba di sebuah tempat, yang mereka bilang rumahmu kini. Ah ya, aku sudah mandi pagi, sudah sarapan lontong Medan, dan tak lupa ku kenakan rok, untuk mengunjungimu. Ibumu bilang, kalau aku datang, kau sebetulnya tau. Benarkah? Sampai detik itu, ingin rasanya aku berkata, “Aku sudah sampai,” batinku.

Bunga ungu di halaman rumahmu kini.
Aku menahan tangisku saat pertama menginjakkan kaki di rumahmu. Aneh rasanya, aku pernah ke tempat itu sebelumnya. Aku pernah memasuki jalanan menuju rumah abadimu. Aku grogi, dan bingung harus melakukan apa. Aku merindukanmu. Selalu. Rumahmu harum, dengan bunga-bunga warna-warni. Ada bunga warna ungu, cantik sekali. Aku menggenggamnya terus. Pada akhirnya, aku memang tak bisa menahan tangisku lagi. Aku memeluk Enggar, erat sekali. Aku bilang aku tak mau menangis di rumah abadimu. Aku berbalik, tangisku pecah. Maaf, aku belum jadi perempuan yang bisa mengatasi tangisku sendiri.

Itu aku, difoto Enggar waktu aku menemuimu lagi.
Aku bertemu nenekmu, kami lalu mendoakanmu. Aku kemudian pergi ke rumah nenekmu. Aku menggenggam tangannya, kami berjalan ke rumah nenekmu. Aku tau, kau mirip siapa. Kau, mirip nenekmu. Senyum nenekmu, mengingatkanku dengan kau.
Rumah Andong bercat hijau muda. Aku tahu ternyata, latar tempat biasanya kau mengirimi foto. Piala-piala berderet di ruang tamu Andong. Rumahnya sejuk, halaman samping ditanami tanaman dan beberapa tumbuhan. Kata adikmu, kau biasanya yang merawat tanaman-tanaman itu. Rumput halaman belakang rumah Andong mulai meninggi. Adikmu bilang, kau berjanji akan membantu Andong memangkas rumput-rumput itu sore hari, di hari yang sama kau pulang. Janji itu tak kau tunaikan, rumput itu mesti dipangkas bukan oleh cucu kesayangan Andong.
Kalau kau sedang tersipu saat ini, tersipulah. Aku dan Enggar, diperbolehkan melihat kamar kau, yang sekarang jadi kamar tempat adikmu menginap. Ada minyak kayu putih yang ku berikan saat kau bertandang ke kotaku. Semuanya masih tertata seperti kau masih ada. Masih ada jaket yang kau kenakan saat kita bersua. Semuanya—ku rasa tetap sama, termasuk senyum salah tingkahmu yang selalu ku kenang. Semoga, di kesempatan yang lain kau dapat bersua dengan orang-orang terkasih dengan senyum itu. Kau pernah bilang, kota Medan terik dan panas, tapi tak terasa sebab ada kau. Saat kau mengirim pesan itu, ku jawab ketus. Tapi kini, aku mengamininya. Kau benar, rumah abadimu, juga kenangan akan memori tentangmu, selalu menyejukkan. Kau benar, lagi. 

Tadinya, aku pikir aku hanya jadi perempuan yang lemah dan terus bersedih kalau aku mengingat kau. Tapi, kalau aku tak menuliskan kisah ini, aku justru takut. Aku akan pergi dengan sia-sia tanpa sempat mengingatmu dalam diksiku.
Kalau aku tak berbagi kisah ini, aku takut aku akan lupa. Aku takut, jika beberapa tahun lagi aku masih berpijak di bumi, ingatanku akan hilang dan kau akan lenyap. Aku menulis tentangmu dengan sesekali isak tangis dan sesak. Hehe. Aku tak sedih-sedih lagi, tapi rupanya tak pernah ada jeda waktu untuk merasa kehilangan. []



Nurul Yunita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram