Cinta: Menyoal Perbedaan Perspektif Antargender

Setelah berhenti mengisi konten untuk laman sendiri, tiba-tiba ‘ku tertarik untuk mengisinya kembali. Selama ini ‘ku berpikir terlalu cengeng dan menye-menye kalo nulis di blog (sebab ujung-ujungnya curhat, sis!), apalagi tentang tjinta. Tapi cuy, memang romantika hati itu paling seru untuk dibahas. Terpantik dari kisah-kisah para sobat yang resah atas romantika cinta yang misterius, ‘ku coba mengunggah tulisan ini.
Cinta. Apapun makna nya bagi kamu, menurutku ini selalu menarik dibahas. Terakhir baca buku tentang percintaan, ‘ku buat resensi buku ini: http://isolapos.com/2017/11/sebuah-pencarian-cinta-sudahkah-kita-menemukannya/
Terlepas dari cakupan luas mengenai cinta, dalam edisi kali ini ‘ku mau menanggapi perihal perspektif beberapa kata berikut: cinta; tinggal; bertahan; pergi; melepaskan. Perspektif ini baik dari pihak laki-laki maupun perempuan. Cinta dalam konteks yang ‘ku bahas ini, menyangkut pasangan seperti kodrat yang ditentukan-Nya, yakni laki-laki ke perempuan, pun sebaliknya.
Pertanyaannya sederhana. Tapi, mungkin jawabannya susah kali ya. Ah, tapi susah gampang serta kata sifat lainnya ‘kan kerelatifan yang subjektif ya? (ini bukan pertanyaannya, skip please).
Petunjuk:
Bacalah pilihan berikut dengan cermat dengan penuh keyakinan hati dan kerasionalan diri (padahal ‘ku tau, membahas cinta kadang tak rasional, ye kan?)
  1. Kamu sayang sama seseorang, tapi saking sayangnya kamu milih ninggalin pasangan kamu.
  2. Kamu sayang dan tetep bertahan meskipun pasangan kamu tersakiti atau ikut sedih

Ceritanya nih, kamu sedang dalam kondisi itu. Ada pemicu, yang bikin kamu berada diposisi sulit. Permasalahan yang sangat pelik, yang kalian alami (ini misalnya loh ya, jangan di Aamiin-in). Kalian harus memilih antardua hal tersebut. So, warga net, kalian pilih yang mana?
Terlepas dari jawaban warga net sekalian, berikut ini akan ‘ku paparkan sedikit hasil jawaban para narasumberku. Jika warga net mengalami kesamaan jawaban, ato ngerasa “Itu aku banget deh,” mohon maaf nih. Mungkin itu kebetulan yang disengaja, ataupun ketidaksengajaan yang dibetulkan (*apanih spam).

Laki-laki dan Kecenderungan Untuk Melepaskan
 “Dia tiba-tiba pergi aja gitu. Katanya sih sakit. Dia nggak bales pesanku lagi. Aku bingung deh, kok dia tega ya ninggalin aku? Apa dia lupa janji-janjinya dulu?” Begitulah kira-kira ilustrasi sederhana perihal perempuan yang ditinggal begitu saja oleh lelakinya. Hmm. So sad yes.
Kalo ada yang pernah dan masih inget film Pupus yang dibintangi Marcel Chandrawinata dan Donita, itu mengisahkan hal-hal yang mirip-mirip gini. Bedanya, difilm itu, Panji (yang diperankan Marcel) tiba-tiba pergi ninggalin Cindy, perempuan yang udah terlanjur sayang sama Panji. Panji berdalih dia udah tunangan sama orang lain, jadi ninggalin Cindy. Cindy patah hati dan ngerasa “Kok tega banget ya,” kurang lebih sama lah sama ilustrasi yang ‘ku gambarkan diawal tadi. Pada akhir cerita, baru deh terungkap kalo Panji, ternyata sakit. Perihal Panji yang udah tunangan itu dusta dan intrik belaka, supaya Cindy benci sama doi dan bisa bahagia dengan yang lain.
Salah satu film yang ditonton berkali-kali tapi masih bikin gagal move on ya ini. Fix banget tuh cowok kenapa harus pergi? Takut si cewek gagal move on. Takut si cewek nggak bisa sama yang lain. Takut si cewek nggak bisa bahagia. Betulkah seperti itu? Lalu, apa korelasi antara film dan ilustrasi diawal? Mari kita telusuri.
Bosque. Ini nih yang menjadi jawaban 4 dari 6 respondenku, yang coba ‘ku kontak dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ini bukan sebuah survei yang valid kan? Inget, ‘ku pakai kata kecenderungan. So pasti, ini artinya belum tentu. Yups! Bagi laki-laki, nampaknya melihat seseorang yang kita sayangi bahagia dengan melepaskannya merupakan hal yang hqq untuk dipilih.
Menurut narasumberku, doi bilang gini “Bagiku cinta itu melepaskan”. Lah, kenapa? Lalu doi menjawab “Cowok itu hakikatnya mencintai, urusan dia dicintai balik atau enggak itu belakangan”. Oke sip bisa diterima enggak sist jawabannya? Kalau dalam konteks mencoba mencintai perempuan sih bener kek gini. Pernyataan tersebut juga dapat dibenarkan oleh kacamata perempuan kalo posisinya perempuan sudah tidak cinta lagi. Seperti narsum ‘ku yang bilang “Aku milih yang satu sih, karena bener deh kalo si cewek bersama denganku karena terpaksa itu bikin sakit juga,” tuturnya dalam sebuah pesan teks yang dia kirim kepadaku.
Oke-oke. Tapi, begimana nih kalo perempuannya sudah cinta juga? Narsum ‘ku yang lain punya pernyataan begini, “Aku pernah ngelakuin yang pertama (pilihan pertama,-red), tapi kadang apa yang menurut kita baik belum tentu pasangan juga berpikir dari sudut pandang yang sama. Akhirnya, malah muncul miskomunikasi. Dia malah mikir kalau aku ini jahat. Kenapa tiba-tiba ninggalin, padahal alasan utamanya biar dia bahagia,” tulisnya beserta emoticon sedih diakhir kalimat. Poin penting disini, ialah komunikasi. Yay! Komunikasi adalah koentji dalam sebuah hubungan.
“YA, TAPI NGGAK BISA GITU DONG. MASA LAKI-LAKI PERGI SEENAKNYA GITU AJA?!” gerutu seorang perempuan. Sabar sis! Belum beres ini pembahasannya. Tenang, sis! 
Menurut survei ‘ku ini, tidak semua laki-laki punya kecenderungan untuk melepaskan. Ada yang menjawab dengan mantap pilihan nomor 2, untuk tetap bertahan dan tinggal.  “Kalo udah sayang sama seseorang selama bisa diperjuangin ya diperjuangkan sampai akhir,” tutur narsumku ini. Lalu, ketika ‘ku tanyai mengenai kondisi yang misalkan seperti film Pupus, doi menjawab “Kalo liat lelaki yang kayak gitu serasa lelaki kurang bertanggungjawab,” tambahnya. 
Nah, gimana nih sis? Masih ada kok yang jawab nomor 2. Narsumku yang terakhir pun menjawab pernyataan nomor 2. Doi bilang “Toh kalau membiarkan orang yang kita sayang sama orang lain belum tentu dia bahagia sama oranglain. Jadi sebagai cowok harus berusaha sebaik mungkin membahagiakan pasangannya,” tuturnya dengan bijak. Bisa dilihat sis? Masih ada stok lelaki yang memilih nomor 2 ini, hehe.
Baiklah, sudah dijabarkan nih ya perihal kecenderungan dari pihak kaum Adam. Nah, bagaimana para perempuan menjawab pilihan mereka? Mari kita simak lagi!

Perempuan dan Kecenderungan Untuk Bertahan
“Kalau sayang mah pertahanin aja, walau badai menghadang,” ini jawaban perempuan yang idealis. Betul tidak? Yaps, perempuan memang pengennya begitu. Tetap bertahan atas dasar sayang.
“Kalau ada masalah apapun, kalo emang dia juga sayang, ya ayo hadapi bareng-bareng. Jangan dijadiin alasan buat pergi. Ga ada sih yang namanya terlalu sayang sampe milih ninggalin, omong kosong banget,” ini jawaban realistis seorang perempuan. Apakah kalian merasa hal yang sama sis?
Perempuan memang memiliki kecenderungan untuk bertahan, menetap, tinggal atau tidak pergi. Betulkah? Baiklah, izinkan ‘ku bercerita.
Perihal para lelaki yang menilai jika suatu saat nanti meninggalkan pasangannya ketika masih cinta, lalu si perempuan gagal move on, enggak bisa sama yang lain, itu ada benarnya juga. Tapi, apakah benar si perempuan enggak bisa bahagia?
Kerelatifan cerita ini, menyatakan tidak gaess. Contohnya aja ketika seorang perempuan yang ditinggalkan laki-laki, konteks ini si laki-lakinya meninggal. Menjadi benar, si perempuan bisa jadi gagal move on, enggak bisa sama yang lain. Tapi, toh si perempuan malah bahagia. Kenapa bisa nih? Yup. Perempuan kan biasanya gitu. Karena cinta, sayang, dsb mereka lebih sering bertahan dan memegang teguh cinta dan kesetiannya. Tak jarang, dalam konteks lingkungan keluargaku, para ibu yang tangguh itu lebih memilih tetap sendiri. Memilih membesarkan anak-anak secara mandiri, daripada harus mencintai orang lain lagi. Apa mungkin ini juga dipengaruhi oleh sikap perempuan yang mengatasnamakan cinta diatas segalanya? Ataukah memang kecenderungan perempuan bertahan, karena ia lebih mampu melakukan segalanya sendiri? Ini jadi pertanyaan lainnya ya warga net. Sila bantu dijawab dengan mengirim pesan padaku😊😊
Eits. Sesi ini belum selesai! Apakah dengan kecenderungan perempuan untuk bertahan selalu dibenarkan? Tentu enggak dong sis! Hidup enggak harus tentang siapa yang lebih kuat bertahan, atau siapa yang paling cinta. Sis, menurutku kalian juga boleh pergi. Kapan? Waktu kalian sudah tidak berbahagia lagi. Pada saat, hakikat mencintai itu sudah disalahartikan. Pada saat, sebuah hubungan bukan lagi jalinan dua belah pihak yang sepakat, tapi hanya dominasi. Kalo kalian semisal dijahatin terus sama lelaki kalian, atau dibohongi terus menerus, alangkah lebih bijak jika sista-sista melanjutkan opsi yang pertama: “Kamu sayang sama seseorang, tapi saking sayangnya kamu milih ninggalin pasangan kamu”. Hal ini juga bersesuaian dengan pernyataan narsumku yang berasal dari daerah Priangan Timur, “Bisa aja bertahan sama nomer 2 dengan sedikit demi sedikit mengubah rasa sakit itu. Kalo ngga bisa, baru nomor 1,” ujarnya.

Pada Akhirnya…
Untuk para lelaki yang punya kecenderungan untuk pergi. Lalu juga ada fenomena “Aku butuh pergi dari kamu dulu, buat tau seberapa aku butuh kamu,” so klasik sekali. Inget bosque, yang akan kalian tinggal pergi itu hati perempuan loh, bukan hadiah ciki yang kalo belum beruntung boleh coba lagi. Kalo tiba-tiba dilepas terus nggak balik lagi gimana? Kalo balik lagi pun, apa menjamin tetep sama? Hehe.
 Untuk para sista, bertahan atas dasar cinta dan kesetiaan itu boleh, tapi kebahagiaan itu penting. Pesan utama sebuah hubungan itu kebahagiaan. Relatif? Ya! Lalu, cuma kedua belah pihak lah yang bisa mengklaimnya masing-masing. Kalo memang sudah sering tersakiti, ya dikomunikasikan. Adanya keterikatan hati, harusnya sudah pasti jadi jalan komunikasi paling presisi, bukan?
Juga, untuk kita, sebagai manusia yang selalu punya pilihan. Selalu ada pilihan untuk tinggal atau pergi. Terlepas dari bertahan atau melepaskan. Bukankah manusia selalu dihadapkan pada pilihan? Sebab, yang mengunggah tulisan ini pun masih sering bingung dengan sebuah pilihan. Isi soal Ujian Nasional yang pilihan ganda itu juga butuh waktu kan, apalagi masalah hati. Ini bukan soal SBMPTN yang kalo salah pilih diminus, ini soal hati, sekali salah pilih bisa resah sepanjang hari. Mending kalo itungannya hari. Kalo sepanjang hidup? (*Oke spam lagi).
Dear para sobatku yang sudi menjadikanku tempat kalian bercerita, terimakasih sudah bertukar gelisah. Kiranya, kita dapat sama-sama berefleksi. Semoga, selalu ada ruang bagi kita untuk bercerita. 

Unknown

2 komentar:

Instagram