Kesulitanku ialah menarik kembali
jangkar, yang telah kapalku labuhkan pada sebuah tepian pantai nun jauh disana.
Berlayar dari negeri antah berantah, menemukan daratan ialah harapanku. Kamu yang
kutemukan dari ribuan mil samudra yang ku arungi, membawaku untuk menetap dalam
keteduhan daratan nan masyur milikmu. Larut dalam ketermasyuran daratan mu, aku
lupa untuk kembali. Aku lupa tempat terakhir menaruh kapalku dan melabuhkan
jangkar. Sejenak aku tersadar, ku berlari dan mencari kapalku. Masih utuh. Ia masih
terlihat kokoh dengan jangkar yang bersandar di tepian daratanmu. Ku pandangi
samudra luas. Samudra masih menungguku, desir hatiku yang telah lama larut
dalam kemasyuran daratanmu.
Sejenak aku berpikir dan memutuskan untuk menarik jangkarku. Aku ingin mengarungi samudra lagi.
Nyatanya, jangkarku tersangkut
pada terumbu karang. Butuh waktu lama untuk mengambil jangkarku. Daratanmu masih
terlalu indah untuk kutinggalkan. Namun samudra menantangku untuk diarungi. Aku
tak tau, apakah aku akan menemukan daratan seindah ini lagi?
Desiran angin di tepi daratanmu
membuatku bimbang. Haruskah aku terus bertahan di daratan indah ini? Atau kah
ku harus mengarungi samudra sebagai fitrahku, sang penjelajah laut? Aku masih
memiliki waktu hingga jangkarku dapat kutarik kembali. Selama waktu itu aku
ingin kamu mengerti, daratan mu yang indah selalu membuatku bahagia. Namun,
samudra nan luas selalu membuat aku lebih hidup, dengan puluhan badai yang
mungkin saja membuat kapal ku karam, aku merasa lebih bahagia mati dengan ombak
yang menelanku. Ku harap suatu hari kamu mengerti, aku memang mencintai daratanmu
namun ku lebih mencintai samuderanya.




puitis sekali :')
BalasHapus